Skip to content


Kenanganku

Pada tahun 2012 ini, genap 20 tahun yang lalu, saya meninggalkan desaku, Desa Timbangreja, sejak lulus SMA N 1 Slawi, untuk kuliah di Kota Semarang, ibu kota Provinsi Jawa Tengah.

Desa yang telah aku tinggali sejak 20 tahun sejak aku lahir pada tahun 1972. Dan kini telah aku tinggalkan 20 tahun yang lalu, meskipun setiap saat aku bisa pulang ke desa, namun kini dalam usia 40 tahun, semua kenangan masa kecil di desa itu serasa terus memanggilku, untuk aku kembali pulang ke kampung halaman rumahku < yang kini rumah itu sudah tidak ada lagi  >.

Mengenang Masa Kecil itu begitu Indah

Aku lahir tahun 1972 , namun orang tuaku lebih ingat kejadian yang mengiringi kelahiranku daripada tanggalnya. Orang tua ku bilang, aku lahir saat sore hari menjelang malam, saat di Musholla akan ada acara “Tekewinan”. Berarti aku lahir pada tanggal 8 Mulud atau Rabiul Awal, karena acara Tekewinan adanya pada tanggal tersebut. Atau 4 hari menjelang kelahiran Nabi Muhammad SAW, yaitu tanggal 12 Rabiul Awal.

Seingatku aku masuk sekolah SD Timbangreja I tahun 1979 dan yang menjadi guru pertama saat aku SD adalah bu Ani yang mengajarkan : Ini Budi, Ini Ibu Budi, Ini Bapak Budi. Kepala SD nya waktu itu Bapak Sunarto, orang Lebaksiu Kidul. Lokasi SD ini jauh dari rumahku yang berada ujung timur selatan, dan SDku barat utara, ibarat garis diagonal. SDku dekat dengan jalan raya, juga dekat warung milik Pamanku, Lik Harun (yang kemudian dikenal sebagai Haji Ghofur, adalah adik ibuku dari bapak yang berbeda). Tiap kali jam istirahat sekolah, biasanya aku mampir ke warung, nanti aku dikasih jajan kacang klitik oleh mbak yu ku Mulyanah yang menjadi pelayan warung membantu tugas Lik Harun.  Aku ke sekolah kadang pakai sepatu, tapi kadang juga tidak pakai sepatu (alias nyeker) saat pulang sekolah, dan sepatunya dikalungkan ke leher. Pulang sekolah melewati pohon duku dekat sebelah utara Masjid Desa Timbangreja, seringkali mengambili buah duku yang sudah jatuh untuk dimakan. Teman-temanku waktu itu Dulwahid, Dulhanan, Sidiq, Shodiq. Berangkat dan pulang sekolah selalu lewat jalan tengah, melewati depan rumah pak Lurah Sudarno.

Sampai kelas 2 catur wulan pertama aku masih berangkat sekolah. Suatu kali ada kabar bahwa akan dilakukan suntik cacar buat murid SD. Aku dan teman-teman kabur dari kelas dan tidak kembali ke sekolah, karena takut disuntik. Pada catur wulan kedua, aku mulai sering tidak masuk sekolah. Bapak ku tidak marah, cuma ya eman-eman, mengapa aku sering tidak masuk sekolah. Usut punya usut, aku tidak masuk sekolah setiap ada pelajaran Agama Islam. Gurunya orang Danawarih (sudah lupa, siapa namanya). Aku masih ingat betul, guru Agama Islam ini galak dan suka nyabet telapak tanganku sampai panas dan perih. Sabetan ini dilakukan setiap aku maju di depan kelas dan tidak bisa menghapalkan bacaan sholat. Iya memang aku sholat di Musholla sama teman-temanku, tapi aku tidak mengerti bacaan sholat itu apa dan bagaimana. Sebagaimana layaknya anak kecil, pergi ke Musholla Al Khusain hanya untuk ikut sholat, tapi belum ngerti bacaannya. Sejak saat itu, setiap ada pelajaran Agama Islam, aku tidak mau berangkat sekolah. Akhirnya cawu 2 dan 3, aku tidak sekolah. Hanya main dengan teman-teman. Ini pengalamanku sekolah dengan guru yang galak, yang mengakibatkan aku tidak mau sekolah dan akhirnya tidak naik kelas.  < sekiranya aku jadi guru, semoga tidak akan berlaku demikian>

Tertinggal kelas, tahun berikutnya aku masuk sekolah lagi di kelas 2. Teman-temanku sudah naik ke kelas 3. Selama kelas 2 ini, aku tidak begitu ingat dengan guru siapa. Sampai akhirnya aku naik kelas 3. Waktu kelas 3 ini, guru kelasku namanya bu Supriyati orang Yamansari. Barulah di kelas 3 ini, aku ingat suatu kejadian, aku berangkat sekolah tidak pakai sepatu (nyeker), dan datang terlambat. Oleh guru kelasku, aku disuruh berdiri di depan kelas, dengan salah satu kaki diangkat. Ini hukuman karena ke sekolah tidak menggunakan sepatu dan baju tidak rapi. Hukuman inilah yang membuat sejak saat itu, aku berusaha untuk memakai sepatu kalau ke sekolah dan selalu dengan baju yang rapi, dimasukkan ke celana.  Dan kebiasaan ini menjadi karakterku hingga aku kuliah bahkan hingga sampai sekarang saat bekerja. Saat kelas 3 ini, aku sudah mulai mengerti sekolah dan kewajiban belajar. Aku belajar, membaca dan menulis sudah otomatis sejak kelas 3 SD ini. Hingga akhirnya aku naik ke kelas 4. Saat aku duduk di kelas 4 dengan guru kelas bu Ratminingsih (yang akhirnya sekarang menikah dengan Pak Zaeni), sekolahku dipugar. Sehingga aku sekolah di Balai Desa. Cuma sayangnya, ruang yang digunakan untuk belajar bukan ruang rapat atau kantor bagian dalam, tapi di bagian bulog ( gudang yang digunakan untuk menyimpan gabah padi) dengan suasana pengap. Namun anak kecil ngertinya senang. Kalau istirahat, aku main ke kuburan bersama dengan teman-teman yang lain mencari bunga semboja dan naik ke pohon semboja. Di kelas 4 ini anak yang paling nakal yaitu Mukmin dan Susmanto. Dua anak ini seringkali berkelahi, adu jotos, tidak ada yang mau ngalah ( semoga bu Ratmi masih ingat, anak-anak ini nakal waktu SD nya). Alhamdulillah di kelas 4 ini, meski aku belajar di ruang bulog yang pengap, aku bisa naik kelas 5 dengan nilai rapot yang cukup membanggakan, terutama nilai matematika ku dapat 9 di raport.

Naik ke kelas 5, aku pindah sekolah, yaitu ke SD Timbangreja 2. Sekolah yang berada di sebelah timur rumahku. Alasannya lebih dekat dan karena takut ketemu anak-anak nakal yaitu Mukmin dan Susmanto. Pihak SD Timbangreja 1 menyayangkan kepindahanku ke SD 2. Namun daripada aku tidak sekolah, akhirnya pihak SD 1 memperbolehkan. Entah bagaimana prosesnya, seingatku sekolah jaman dulu untuk urusan pindah, adalah urusan yang mudah, bukan urusan yang sulit. Orang tuaku juga tidak banyak terlibat urusan pindah sekolah ini, hanya saja, ya daripada anaknya tidak mau sekolah, pindah ya tidak apa-apa, yang penting masih mau sekolah.

Di SD Timbangreja 2 ini, aku bertemu dengan Muhsinin, Abdul Ghofur, Nadiroh, Nuryati, Nurlaela, Muhayati dan teman-teman lain seperti Ulwi Ghozi. Hobi membaca ku semakin menjadi-jadi. Setiap kali ada majalah Ceria dan Si Kuncung yang dilanggan SD, akulah yang pertama kali pinjam dan membacanya hingga selesai. Guru kelasku waktu itu bu Eni dari Yamansari. Waktu itu di ruang guru ada Piano kecil satu oktaf, hanya aku yang berani meminjam untuk latihan. Karena saya suka dengan buku-buku, oleh bu Eni saya diserahi kunci perpustakaan untuk membaca buku sepuasnya. Berbagai buku cerpen banyak sudah yang saya baca saat itu.  Salah seorang yang tidak suka denganku adalah Ghozi cs. Murid ini dengan mengajak teman-teman yang lain pernah suatu kali mengobrak abrik buku yang ada di Lemari. Dan aku yang memberesinya. Ini terjadi tidak cuma sekali.

Saat kelas 5 ini, banyak peristiwa yang aku ingat. Ada guru magang namanya bu Christine dari Jogja (yang selanjutnya ternyata ini adiknya pak FX teman pak Ngadisa Agustinus). Bu Christine ini ngekost dengan bu Masitoh. Aku dan teman-teman pernah mengunjungi kost-nya di Lebaksiu (yang sekarang menjadi tempat penjualan sate). Di kelas 5 ini juga, aku ikut lomba MTQ di Lebaksiu, dan aku menjadi juara 1  tingkat Kecamatan Lebaksiu. Untuk ini, aku kemudian mewakili kecamatan untuk lomba MTQ di tingkat Kabupaten bertempat di Talang didampingi pak Sholeh.

Saat naik kelas 6, guru kelasku digantikan sementara oleh Pak Sholeh dari Yamansari. Hal ini karena bu Eni baru saja cuti karena melahirkan. Cara dan metode mengajar yang dilakukan pak Sholeh ini membuat aku semakin tertarik dengan pelajaran-pelajaran yang Beliau sampaikan, salah satunya yang masih teringat adalah penjelasan mengenai sistem tata surya. Biasanya, sistem belajar hanya dengan mendengarkan, tanpa boleh bertanya. Tapi dengan cara belajar yang dilakukan pak Sholeh ini, membuat suasana belajar lebih hidup, karena pertanyaan bisa diajukan kapan saja, dan jawaban tidak selalu dari guru, karena murid yang lain, boleh menjelaskan. Wah pokoknya seru belajar di kelas di pak Sholeh. Sangkin semangatnya, apalagi sudah kelas 6 untuk menghadapi EBTA/EBTANAS, aku dan teman-teman datang ke rumah pak Sholeh di Yamansari untuk belajar kelompok. Namun, saran dan nasehat dari pak Sholeh, tidak perlu belajar kelompok ke rumahnya. Cukup belajar yang tekun di rumah masing-masing. Nanti diskusi lagi di kelas. Alhasil, sampai aku lulus dari kelas 6 ini, guru kelasnya ada pak Sholeh. Saya menilai, cara dan metode yang digunakan pak Sholeh ini termasuk manjur dan ampuh, hingga aku bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Aku satu-satunya murid SD Timbangreja 2 yang melanjutkan ke SMP Negeri Lebaksiu. Teman-teman yang lain, memilih sekolah di SMP Al Usmaniyah di Yamansari, ada juga yang ke MTS dan ke Pondok Pesantren.

Be Sociable, Share!

0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.

*

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

Comments links could be nofollow free.



Skip to toolbar