Skip to content


Paket Wisata Geotermal

Artikel ini telah diterbitkan di Kolom Wacana Lokal, SUARA MERDEKA, 11 Juni 2014.

Untuk memenuhi kebutuhan energi listrik yang tiap tahun terus meningkat, pemerintah mencanangkan program pembangunan 10.000 MW, dengan membangun pusat-pusat pembangkit energi listrik, seperti PLTU Tanjung Jati, PLTU Cilacap dan PLTU Batang. Namun pembangkit tersebut masih menggunakan bahan bakar yang tidak dapat diperbarui ( Suara Merdeka, 11 Juni 2014).

Guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar yang tidak dapat diperbarui, kebijakan umum ketenagalistrikan di Jawa Tengah, mendorong pencarian potensi dan cadangan energi baru dan terbarukan (EBT). Selain itu, penganekaragaman pemanfaatan EBT untuk sumber energi. Sumber energi terbarukan yang bisa dimanfaatkan, yaitu panas bumi (geotermal), panas matahari (solar cell), tenaga angin, dan aliran air sungai.

Salah satu sumber energi baru dan terbarukan yang jadi primadona Jateng adalah geotermal. Terdapat 14 lokasi panas bumi di 5 kawasan gunung, yaitu Gunung Slamet (Guci, Baturraden), Gunung Ungaran (Diwak, Kaliulo, Nglimut, Gedongsongo), Gunung Lawu (Bayanan, Pablengan, Cumpleng), Gunung Dieng (Wanayasa, Kawah Candradimuka, Sikidang), dan Gunung Telomoyo (Candi Umbul, Candi Dukuh).
Saat ini lokasi geotermal yang telah dimanfaatkanyaitu pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di kawasan Dieng. Adapun lokasi geotermal lain, yang akan segera dieksplorasi berada di kawasan objek wisata Guci Bumijawa Kabupaten Tegal.

Membaca berita berjudul ”Eksplorasi Panas Bumi di Guci Segera Dilakukan” (SM, 28/4/14), menggugah rasa bangga penulis sekaligus rasa khawatir. Bangga karena Jateng  ternyata memiliki potensi energi baru dan terbarukan yang melimpah. Berdasarkan hasil survei lanjutan, diperoleh informasi bahwa kapasitas pembangkit geotermal Guci, 1 unit mencapai 200 MW, padahal semula diperkirakan hanya 55 MW. Suntikan daya 200 MW terhadap sistem kelistrikan Jawa Bali ini tentu akan memperbaiki profil tegangan dan daya di Jawa Tengah khususnya.
Investor PT Spring Energy Sentosa akan melakukan eksplorasi untuk mencari titik panas bumi  sekitar Juli 2014. Di tengah rencana eksplorasi, muncul kerisauan penulis terhadap lingkungan konservasi sebagai penyangga sumber air di kawasan Gunung Slamet. Termasuk kekhawatiran menurunnya ketersediaan air panas bagi objek wisata Guci. Selama ini, kawasan hutan konservasi di Gunung Slamet menjadi penyangga utama sumber air yang mengalir melalui sungai Gung (Kali Gung) dan digunakan mengairi sawah dari wilayah selatan hingga utara.

Paket Wisata

Objek wisata air panas Guci saat ini memberikan PAD Rp 2 miliar lebih per tahun (SM, 22/10/13). Dengan perbaikan manajemen wisata, salah satunya menggunakan alat hitung otomatis pengunjung (automatic visitor counter-AutoVisCo), perolehan PAD sektor wisata ini bisa Rp 3 miliar lebih per tahun.

wisata-guci1Sumber : http://hendraxsap.files.wordpress.com/2012/12/wisata-guci.jpg

Potensi wisata ini sepenuhnya bertumpu pada sumber air panas yang mengandung sulfur, di samping panorama alam pegunungan yang indah. Penulis khawatir, pada saat eksplorasi ini dilaksanakan, akan merusak lingkungan yang berakibat menurunnya kemampuan hutan untuk menyerap air.

Kerusakan lingkungan alam bisa saja terjadi karena proses pencarian titik panas bumi kurang akurat, sehingga harus berpindah-pindah dari satu titik ke titik lainnya, yang mengakibatkan kerusakan hutan konservasi sebagai penyangga sumber air. Jangan sampai kehadiran PLTP geotermal itu menurunkan debit air panas Guci, objek wisatayang selama ini telah menjadi primadona Kabupaten Tegal.

Alam LestariSumber : http://infotegal.com/wp-content/uploads/2013/01/1.jpg

Harapannya, justru dengan adanya pembangkit listrik panas bumi di Guci, kawasan hutan konservasi dapat lebih terjaga, bahkan menambah daya tarik wisata sehingga pengelolaannya menjadi satu paket dengan wisata air panas Guci. Jika demikian, tentu keberadaan pembangkit listrik geotermal sangat bermanfaat dan perlu segera direalisasikan karena bisa melengkapi paket wisata Guci: air panas dan panorama alam pegunungan yang indah. (10)

— Abdul Syakur ST MT, warga Kabupaten Tegal, dosen Jurusan Elektro Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Share on Facebook
Be Sociable, Share!

Posted in Berita, Opini.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.

*

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

Comments links could be nofollow free.



Skip to toolbar