Skip to content


Korsleting Bukan Penyebab Kebakaran

Sumber : SM Cetak – Wacana, 25 September 2013

Cerdas Mencegah Korsleting

  • Oleh Abdul Syakur

 

Kebakaran merupakan ancaman bagi manusia, harta benda, dan lingkungan. Data Dinas pada Kebakaran Kota Semarang mencatat angka kebakaran di Semarang hingga 28 Agustus 2012, naik signifikan. Tahun 2010 terjadi 112 kebakaran, dan tahun 2011 meningkat hampir lipat dua menjadi 205 kasus. Angka itu bertambah pada musim kemarau.

 

Periode Januari hingga Agustus 2012 terjadi 147 kasus dengan 11 korban tewas. Penyebab  utama adalah kelalaian manusia, selain faktor alam semisal terbakarnya alang-alang atau semak karena panas tinggi pada musim kemarau.

Beberapa waktu lalu sebuah pabrik sarung di Kota Pekalongan ludes terbakar, dan kerugian diperkirakan Rp 45 miliar (SM, 12/4/13). Meski tak ada korban jiwa, kebakaran selalu menimbulkan kerugian. Masih hangat dalam ingatan kolektif kita kebakaran gedung utama Setneg (SM, 22/3/13), tak ada korban jiwa namun beberapa dokumen penting negara terbakar.

Bagaimana hubungan pendek dapat menyebabkan kebakaran dan tindakan apa yang perlu kita lakukan untuk mencegah korsleting?

Korsleting atau terputusnya arus listrik disebabkan oleh terhubungnya kawat bermuatan arus positif dengan negatif sehingga terjadi hubungan pendek, atau dalam teknik kelistrikan diistilahkan hubung singkat (short circuit). Arus dalam hubung pendek ini mengalir tanpa hambatan sehingga meningkat tajam.

Karena itu, instalasi listrik pada gedung/bangunan dilengkapi pengaman berganda, yaitu sekring (fuse) yang berfungsi sebagai pembatas arus, dan mini circuit breaker (MCB, atau awam biasa menyebut meteran listrik) untuk memutus dan menyambung jaringan ke sumber listrik PLN.

Saat terjadi korsleting, arus meningkat tajam. Jika arus itu melebihi kemampuan hantar fuse maka sekering otomatis terputus dan listrik padam. Sebagian besar instalasi rumah saat ini hanya menggunakan MCB utama, terpasang menyatu dengan alat ukur kWHmeter.

Tak adanya sekring dalam instalasi listrik menyebabkan sakelar utama MCB trip atau dalam bahasa sehari-hari disebut anjlok saat korsleting. Dalam kondisi demikian, sumber listrik terputus sehingga tidak ada arus mengalir. Kasus itu menjadi lain bila pelanggan mengganti kawat sekring dan MCB tidak sesuai peruntukan.

Pengecekan Rutin

Api juga bisa muncul dari kawat berisolasi pada setop kontak (steker), antara lain karena satu setop kontak dibebani banyak, melebihi kemampuan isolasi. Demikian juga pemakaian kabel tidak sesuai peruntukan, semisal kabel telepon dipakai  menyalurkan listrik. Masyarakat awam mengabaikan hal-hal teknis seperti itu sehingga kadang setop kontak terbebani arus sangat besar.

Penerimaan beban berlebih menyebabkan setop kontak panas dan bila panas itu melebihi kemampuan isolasi, bisa timbul api. Terutama setop kontak yang sudah lama digunakan, dan ada karat pada bagian logamnya. Jika tidak pengawasan rutin, pada titik itulah kali pertama api bisa muncul.

Sejatinya bila api muncul pada setop kontak dan terjadi korsleting maka sekring dan MCB secara otomatis memutus arus listrik. Persoalannya adalah konsumen kadang mengganti sekring dan MCB tidak sesuai peruntukan. Akibatnya, meteran listrik tetap pada posisi terhubung, dan arus listrik tetap mengalir sehingga ’’memperbesar’’ nyala api.

Untuk menghindari arus besar seperti itu yang dapat memicu kebakaran maka pencegahannya bisa kita lakukan antara lain dengan rutin mengecek kondisi setop kontak dan  tidak membebani dengan banyak daya/pemakaian hingga kadang kita melihat pemasangan T (kombinasi) berderet-deret.

Selain itu, menggunakan material instalasi listrik sesuai SNI/standar PLN, memercayakan pemasangan instalasi pada ahlinya, dan pengecekan berkala oleh lembaga bersertifikasi.

Kebakaran bisa dipicu oleh penggantian sekring/ MCB yang tidak sesuai peruntukan, pembebanan berlebihan pada satu setop kontak, dan penggunaaan material yang tidak sesuai standar. (10)

 

— Abdul Syakur ST MT, dosen Elektro Fakultas Teknik Undip, kandidat doktor Elektro dari UGM

Share on Facebook
Be Sociable, Share!

Posted in Berita, Makalah, Opini.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.

*

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

Comments links could be nofollow free.



Skip to toolbar