Skip to content


Kota Tanpa Jaringan Listrik Udara

Dimuat di Suara Merdeka, 22 Maret 2013

Tidak ada peradaban modern tanpa energi listrik. Saat ini kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak lepas dari penggunaan energi listrik. Untuk keperluan pendistribusian listrik hingga sampai ke pihak pengguna, saat ini banyak menggunakan kawat konduktor yang disangga dengan menggunakan tiang-tiang listrik. Salah satu permasalahan tata kota saat ini yaitu adanya tiang-tiang listrik dengan kawat konduktor yang tidak tertata dengan rapi. Akibatnya menimbulkan kesan semrawut dan merusak keindahan kota, tak terkecuali kota Semarang. Pernahkah kita membayangkan kota Semarang, terutama jalan-jalan utama di sekitar simpang lima, bersih tertata rapi tanpa adanya tiang dan kabel-kabel listrik serta kabel telepon di atas tanah ? Saat ini hal tersebut mungkin masih berupa angan-angan. Namun siapa sangka, beberapa tahun yang akan datang, kota indah tanpa adanya jaringan listrik udara dan kabel telepon akan menjadi kenyataan.
Sebenarnya, gagasan menata kota Semarang dengan mengganti kabel listrik atas tanah dan kabel telepon telah dimunculkan sejak 5 tahun yang lalu oleh Pemerintah Kota Semarang ketika hendak melaksanakan Program Semarang Pesona Asia (SPA) tahun 2007 (SM, 02/03/2007). Namun, tampaknya sampai dengan saat ini, rencana penggantian tersebut belum terlaksana.
Merusak Estetika
Jaringan listrik udara yang ada pada saat ini, tampak lalu lalang, melintas dan mengganggu keindahan kota, terkesan tidak ditata dengan baik. Penarikan kabel saluran udara dari satu tiang ke tiang berikutnya dan dari tiang menuju ke titik-titik beban perkantoran, industri, tempat bisnis dan perumahan tampak seperti jari-jari payung yang memendar, memberikan kesan pemasangan apa adanya, kurang ditata dengan rapi. Selain itu jaringan listrik udara juga memerlukan ruang aman (right of way, ROW) agar tidak membahayakan bagi mahluk hidup di sekitarnya, utamanya manusia. ROW ini juga dalam rangka menjaga keandalan sistem jaringan listrik agar tidak padam terkena gangguan benda-benda di sekitarnya seperti pepohonan yang bersentuhan dengan kawat listrik karena terkena tiupan angin kencang. Bahkan tak jarang jaringan listrik putus akibat tertimpa pohon yang tumbang saat musim hujan. Ancaman lain berupa sambaran petir langsung dan tidak langsung yang dapat mengenai jaringan listrik udara, dan menyebabkan rusaknya beberapa peralatan listrik rumah tangga dan alat penting yaitu trafo sebagai penyedia utama listrik di jaringan udara. Bahkan kawat netral jaringan dan kabel untuk penerangan jalan umum juga rawan terhadap pencurian. Hal ini mengakibatkan lampu penerangan tidak berfungsi karena terputus dengan sumber energi listrik. Lalu mengapa sampai dengan saat ini kabel listrik udara masih banyak digunakan ? Hal itu tidak terlepas dari kemudahan dalam proses pemasangan serta pemeliharaan saat terjadi gangguan. Jaringan listrik udara selain mudah dikenai gangguan, tapi juga menyediakan informasi yang cukup mudah jika terjadi gangguan serta mudah pada saat akan dilakukan -penggantian peralatan yang sudah tua atau rusak. Secara ekonomis, biaya yang diperlukan untuk pemasangan jaringan listrik udara lebih murah daripada pemasangan menggunakan kabel bawah tanah. Beberapa alasan inilah yang menjadikan kabel listrik udara masih digunakan secara luas sampai dengan saat ini
Kabel Bawah Tanah
Menanggapi rencana Pemkot Semarang mengganti kabel udara menjadi kabel bawah tanah, pihak PT. PLN menyatakan siap untuk membangun jaringan listrik bawah tanah dalam waktu satu atau dua tahun ke depan, dikhususkan untuk wilayah segitiga emas Kota Semarang yaitu Jln. Pandanaran, Jln. Pemuda dan Jln. Gajahmada (SM, 27/06/2012). Saat ini jaringan listrik kabel bawah tanah sudah digunakan untuk tegangan 150.000 Volt. Tercatat di Kota Semarang, jaringan listrik bawah tanah digunakan untuk menghubungkan gardu listrik dari Pandean Lamper menuju gardu induk Simpanglima. Selanjutnya dari Gardu Induk 150 kV Simpanglima menuju ke Gardu Induk Kalisari. Jaringan listrik bawah tanah ini belum tentu diketahui oleh khalayak warga Semarang. Mereka bisa jadi mengetahui bahwa aktivitas yang mereka lakukan, ternyata berada di atas jalur jaringan listrik. Warga tidak merasakan dampak apapun dengan adanya jaringan listrik bawah tanah ini, termasuk kekhawatiran karena terkena paparan radiasi medan listrik yang selama ini ditakutkan. Berbeda dengan menggunakan jaringan listrik udara yang tampak membentang kawat-kawatnya, masyarakat cenderung ada rasa khawatir tinggal di bawahnya, karena jika terjadi kawat putus, paparan radiasi medan listrik dan rasa kurang nyaman karena sering terdengar suara mendesis dari permukaan kawat konduktor terutama saat terjadi hujan rintik-rintik.
Jaringan listrik bawah tanah untuk tegangan yang lebih rendah yaitu 20.000 volt bahkan lebih rendah lagi yaitu 220 volt memiliki banyak keuntungan diantaranya tercapainya keindahan kota serta tidak adanya pengaruh medan listrik dan medan magnet yang sering dikhawatirkan oleh masyarakat di sekitarnya. Gangguan-gangguan yang berasal dari luar jaringan, seperti sambaran petir langsung dan sambaran induksi, sentuhan dengan ujung-ujung batang pohon dan layang-layang hampir dipastikan tidak ada. Apalagi jika jaringan listrik bawah tanah dipadukan dengan jaringan kabel telepon dan saluran PDAM, dalam satu boks, maka akan lebih efisien. Untuk mengantisipasi ketidaktahuan masyarakat terhadap keberadaan jaringan listrik bawah tanah ini, maka dipasang tanda (marker) di atas permukaan tanah dimana jaringan listrik bawah tanah ini berada. Tanda ini selain sebagai informasi juga sebagai tindakan pencegahan terhadap aktivitas pembongkaran, penggalian tanah ketika akan dilakukan kegiatan penataan. Secara teknis, kabel bawah yang membentang dari satu sambungan ke sambungan lain memiliki kualitas isolasi yang lebih baik jika dibandingkan kualitas isolasi pada titik sambungan itu sendiri. Oleh karena itu, untuk mengatasi kekurangan ini, serta untuk penggunaan listrik pada titik-titik beban tertentu, maka perlu dibuat rumah listrik tempat dimana titik sambungan itu berada dan berfungsi untuk membagi listrik ke konsumen.
Prasarana pendukung berupa boks dapat digunakan secara bersama-sama selain untuk jaringan listrik juga bisa dimanfaatkan untuk kabel telepon dan saluran PDAM. Di sisi lain, mengingat kota Semarang utamanya segitiga emas masih belum bisa bebas banjir, maka boks-boks tersebut harus kedap air. Kota yang rapi dan indah serta dengan infrastukturnya yang baik merupakan faktor-faktor yang mendukung daya tarik agar investor mau masuk ke Semarang. Jika sampai hari ini kabel bawah tanah itu belum juga dipasang, hal itu karena PT. PLN masih berhitung, mengingat persediaan anggaran PLN belum mencukupi untuk mewujudkan hal tersebut. Perlu adanya pertemuan bersama antara Pemkot, PLN, penyedia jasa telekomunikasi dan PDAM untuk mewujudkan kota Semarang yang indah dan rapi, tanpa jaringan telekomunikai dan listrik udara.
*) Abdul Syakur, dosen Teknik Elektro FT UNDIP, kandidat doktor Teknik Elektro UGM.

Share on Facebook
Be Sociable, Share!

Posted in Berita.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.

*

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

Comments links could be nofollow free.



Skip to toolbar