Skip to content


Hujan Deras Tanpa Petir

Rabu, 26 Oktober 2011.

 

Sore ini, tepatnya jam 05.00 WIB, hujan deras mengguyur kampus UNDIP di wilayah Tembalang. Air hujan yang sangat melimpah ini turun disertai dengan angin yang sangat kencang, sehingga air hujan ini seperti berlarian ke sana-kemari. Namun yang sangat menarik bagi saya adalah, hujan yang sangat deras dengan jumlah air yang sangat melimpah ini, tak disertai KILAT maupun PETIR satupun.

Guyuran air hujan yang sangat melimpah berlangsung selama 10 menit, setelah itu hujan segera mereda, tinggallah kini rintik-rintik hujan. Dan sampai dituliskannya dalam blog ini, belum satupun kulihat dan kudengar ada KILAT dan PETIR yang berkelebat.

Ada hujan, tapi tidak ada kilat, tidak ada petir, apa mungkin ?

Kalau tidak ada awan, langit cerah, tidak mungkin ada kilat, tidak mungkin ada petir. Kalau ada kilat, ataupun ada petir, pasti ada awan di langit. Sedangkan kalau ada hujan belum tentu ada kilat, juga belum tentu ada petir [abdul SYAKUR] ”

Di menit ke-20 dari jam 5 sore ini, ku dengar sayup petir yang melemah jauh di sana. Jadi, kilat dan petir itu terjadi, semua atas kehendak-Nya. Secara ilmiah, mengapa kilat dan petir itu tidak ada, meskipun hujan sangat deras ? Karena tidak terjadi elektrifikasi di awan, sehingga tidak terbentuk muatan listrik. Tidak adanya muatan listrik di awan, maka tidak ada beda potensial antar awan dengan bumi atau awan dengan awan. Syarat untuk terjadinya kilat kemudian disusul petir adalah adanya sejumlah muatan listrik hasil elektrifikasi di awan. Gesekan antara udara panas dengan awan yang berisi uap air yang membawa pertikel-partikel padat bermuatan, akan menimbulkan muatan listrik statis. Jika gesekan ini terjadi terus menerus, maka muatan listrik yang dibangkitkan akan semakin banyak, beda potensial semakin tinggi. Jika muatan listrik terus bertambah, maka awan yang berfungsi sebagai capacitor, akan melepaskan muatan listrik ke udara sekitar (conduction) menuju pada bagian yang memiliki potensial lebih rendah misalnya ke Bumi. Kilat akan menyambar sampai ke Bumi dalam jangkauan yang sangat jauh, dengan syarat memiliki arus petir yang sangat tinggi. Karena jika energinya tidak cukup, maka hanya akan muncul berupa kelebat cahaya yang menyilaukan (kilat) yang notabene itu adalah elektron listrik yang bergerak sangat cepat, secepat cahaya, menembus dan membelah udara. Pada saat menembus udara itulah, akan terjadi gesekan antara elektron-elektron dengan udara hingga terdengar suara, seperti sesuatu yang melesat.

Jika muatan listrik yang di Bumi berhasil diinduksi oleh muatan listrik awan, maka elektron awal dari awan akan turun ke bumi. Sementara muatan listrik positif hasil induksi yang ada di Bumi akan ketarik ke atas. Media penyalur muatan positif bumi ke awan yang paling efektif misalnya menara-menara transmisi, BTS, pemancar radio dan struktur tinggi yang dilengkapi dengan SPP (Sistem Proteksi Petir). Pada saat muatan listrik elektron yang ada di awan bergerak turun ke bumi, dan muatan listrik positif hasil induksi di bumi naik ke atas, maka akan bertemu pada satu titik. Pertemuan antara muatan listrik awan dengan muatan listrik bumi itulah ditandai dengan bunyi dentuman yang sangat keras yang disebut PETIR. Inilah jenis petir awan ke bumi, jenis petir yang ditakuti oleh mahluk hidup yang ada di bumi, karena dapat menimbulkan kematian dan kerusakan pada alat dan peralatan-peralatan penting.

Masih ada jenis petir yang lain, yaitu petir awan ke awan dan juga ada jenis petir di dalam awan. Petir jenis ini berbahaya bagi pesawat yang sedang dalam penerbangan.

 

Semoga bermanfaat dan menginspirasi.

Catatan sore, hujan deras tanpa petir di Kampus UNDIP, Tembalang.

abdul SYAKUR

 

 

Share on Facebook
Be Sociable, Share!

Posted in Makalah.

Tagged with , , .


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.

*

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

Comments links could be nofollow free.



Skip to toolbar