Skip to content


Meningkatnya Penolakan terhadap PLTN Muria

Gempa 8,9 SR di timur laut Jepang, tidak hanya menghasilkan tsunami yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur, bahkan telah menimbulkan korban jiwa. Jepang, dalam hal teknologi tentu lebih siap untuk menghadapi bencana ini, namun gempa dan tsunami yang terjadi lebih hebat. Selain gempa dan tsunami, bencana besar berikutnya adalah ancaman radiasi yang diakibatkan oleh ledakan reaktor pada PLTN Fukushima, Daiichi, hari Sabtu dan Senin (SM 15/03/11). Dampak ledakan nuklir sejauh ini telah menewaskan 10.000 orang. Lebih dari 180.000 orang telah dievakuasi dari kawasan itu dan sekitar 160 orang terdeteksi radiasi. Jutaan orang terancam hidup tanpa listrik, air bersih, dan makanan memadai padahal kondisi udara saat ini sangat dingin.

Meledaknya  reaktor nuklir PLTN Fukushima, mengingatkan kembali tentang rencana pembangunan PLTN di Desa Balong, Kecamatan Kembang, Jepara. Bak mendapatkan tambahan amunisi, sejumlah masyarakat, tokoh lintas agama dan para aktivis, kembali menyuarakan resistensinya terhadap rencana pembangunan PLTN tersebut. Argumentasi sederhana yang diajukan adalah negara Jepang memiliki teknologi yang sangat maju, etos kerja dan disiplin tinggi, dan siap dalam mengantisipasi kemungkinan bencana yang sewaktu-waktu mengenai PLTN, namun ketika bencana datang, dampak negatif itu tetap terjadi, warga terkena paparan radiasinya bahkan telah menewaskan banyak orang. Dan kekhawatiran itu kini telah terbukti.

Penolakan PLTN Muria

Meski penolakan rencana pembangunan PLTN Muria terus digelorakan, namun pemerintah melalui Menristek menyatakan rencana pembangunan PLTN jalan terus, Pakar teknik nuklir dari Batan menyatakan calon tapak di Jepara belum dihapus, bahkan masih menjadi prioritas lokasi pembangunan PLTN. Muncul alternatif lokasi, PLTN akan dipindahkan ke propinsi Bangka Belitung, namun baru dalam tahap wacana, masih terlalu dini untuk diputuskan bahwa PLTN akan dibangun di provinsi tersebut. Sikukuhnya pemerintah untuk membangun PLTN, alasannya untuk mencukupi pasokan energi listrik nasional jangka panjang, karena jika mengandalkan kekuatan pasokan batu bara hanya bertahan sampai 20 tahun mendatang. Kekurangan energi listrik sudah dirasakan beberapa tahun terakhir ini, dengan adanya pemadaman listrik bergilir yang dilakukan oleh pihak pengelola listrik nasional.

Alternatif Energi Terbarukan

Pemprov Jawa Tengah melalui Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) telah melakukan terobosan dengan fokus mengembangkan energi terbarukan guna mencukupi kebutuhan energi bagi kalangan industri dan masyarakat, seperti pembangunan PLTA di Pekalongan untuk mensuplai 150 KK di daerah terpencil, juga mengeksplorasi energi panas untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi PLTP di Ungaran, Guci dan Banturraden.

 

Harapan PLTU Batang

Selain itu, Pemprov Jateng juga akan membangun PLTU di kawasan pesisir utara. Teka teki soal dimana akan dibangun, sedikitnya telah terjawab dengan dilakukan peletakan batu pertama pembangunan PLTU yang berlokasi di Kabupaten Batang tahun 2011 (SM 20/02/11). PT. PLN (Persero) menyebutkan bahwa PLTU Batang dengan kapasitas 2 x 1000 MW diharapkan dapat beroperasi komersial pada Mei 2015. Dengan dibangunnya PLTU di Batang, ketersediaan energi listrik khususnya di wilayah Jawa Tengah kawasan pantura ujung barat akan meningkat.

Apalagi, Pemda Kendal juga memastikan rencana pembangunan PLTU dengan kapasitas 2 x 1000 MW di Kendal akan segera terealisasi. Hal itu dipastikan setelah pihak Pemda menandatangani MoU kesepakatan Government to Business dengan investor asing dari India. Pihak investor sedang menunggu perizinan dari pemerintah pusat, terkait proses pembangunannya (SM, 31/01/11). Jika PLTU ini terealisasi, maka suplai energi listrik untuk daerah pesisir utara bagian barat benar-benar akan mengalami surplus. Apalagi dengan adanya rencana pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Kendal, tentu membutuhkan pasokan energi listrik yang besar untuk mendukungnya. Dampak ekonomi dengan tersedianya energi listrik tentu akan meningkatkan kinerja industri agar lebih mudah dalam memberdayakan perusahaannya untuk mencapai keberhasilan.

Lalu masih perlukah bersikukuh untuk membangun PLTN di Muria ? Adalah tugas besar untuk meyakinkan publik bahwa PLTN tidak memiliki dampak negatif serius, dan PLTN Fukushima Daiichi Jepang adalah salah satu jawabannya. Partisipasi aktif warga terhadap keberadaan suatu pembangkit listrik adalah salah satu modal besar bagi keberlangsungan penyediaan energi listrik. Sikap ini akan dimiliki, tentu jika warga juga mendapatkan jaminan rasa tenang dan nyaman, tanpa dihantui rasa takut yang disebabkan terkena dampak negatif seperti yang terjadi di Fukushima Jepang.

Share on Facebook
Be Sociable, Share!

Posted in Makalah.

Tagged with , , , , .


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.

*

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

Comments links could be nofollow free.



Skip to toolbar