Skip to content


Buroq = Barqun = Kilat

Malam ini, dalam kalender Hijriyah, merupakan malam bersejarah dalam masa perkembangan Islam. Malam dimana Nabi Muhammad SAW diperjalankan oleh Tuhan, Allahu robb al alamin,  mulai Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Kemudian menuju Sidratul Muntaha, untuk menerima wahyu perintah sholat 5 waktu. Tentu, beriata ini sudah hal yang Masyhur dikalangan muslim. Bahkan diabadikan dalam QS 17 ayat 1, “Subkhaanalladzi asro bi abdihi laylam minal masjidil haram ilal masjidil aqso …. dst “.

Hal yang masih begitu kuat terngiang dalam ingatan saya, adalah uraian yang disampaikan khotib Jumat Masjid Kampus di FT UGM Jumat, 9 Juli 2010.

Isinya lebih kurang begini : ” Nabi Muhammad SAW diperjalankan oleh Allah mulai dari Masjid Al Haram ke Masjid Al Aqsa ( Isra ), kemudian Mi’raj dari Masjid Al Aqsa ke Sidratul Muntaha dengan MENGENDARAI BUROQ. Kata Buroq inilah yang menjadi menarik, karena telah ditafsirkan sebagai suatu bentuk kendaraan oleh sebagian umat Islam. Sehingga dalam sifat-sifatnya digambarkan seperti kuda terbang, bersayap dan memiliki kepala dan wajah manusia yang tampan ? benarkah deskripsi ini ?

Pemahaman dan tafsir atas kata buroq ini, oleh sebagian umat Islam yang lain, menjadi kata yang bermakna KILAT, jika asal katanya adalah Barqun. Sehingga Nabi Muhammad SAW diperjalankan oleh Allah SWT hanya dengan waktu yang singkat, karena dengan kecepatan secepat KILAT. ( Dalam perkuliahan, biasa disebutkan kecepatan kilat mendekati sama dengan kecepatan cahaya, yaitu 300 m/mikrodetik atau setara 300.000.000 m/detik ).

Namun, menurut khotib memberikan tafsir, bahwa kata buroq=barqun=kilat, merupakan energi yang sangat besar, yang mampu membakar karena memiliki efek panas yang sangat tinggi. Dan ini simbol dari nafsu yang sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan manusia yang dapat merusak hidup manusia jika tidak bisa mengendalikannya. HANYA YANG BISA MENGENDALIKAN NAFSU, YANG BISA DIPERJALANKAN. Dan Nabi telah bisa mengendalikan nafsu dunianya, sehingga bersih dari segala kehendak nafsu.

Apa itu kehendak nafsu dunia yang memberatkan manusia, sehingga tidak bisa di-MI’RAJ-kan oleh Allah ? Dalam QS. An Nisa dijelaskan : Dihiasi manusia dengan kecenderungan senang pada WANITA, ANAK-ANAK dan HARTA BENDA/UANG. Dan, marilah sejenak kita amati, apa yang sedang kita semua rasakan akhir-akhir ini ?

Berita dan iklan, hampir semua mengekspos TENTANG WANITA. Mulai dari rambut yang indah, kulit yang putih mulus, pipi, leher, pundak, lengan sampai tumit kaki, hampir semua iklah ini ditampilkan oleh sosok wanita. Dan ini demi untuk menarik konsumen. Ya, memang wanita telah dijadikan objek penarik. Bahkan dalam beberapa bulan ini, berita tentang “perbuatan” wanita, yang tiada hentinya diberitakan.

Sedangkan kecenderungan senang pada anak-anak ini, diperluas menjadi (termasuk) senang memiliki anak secara biologis yaitu anak kandung, juga termasuk keinginan memiliki ANAK BUAH. Artinya, banyak sekali manusia yang berebut dengan berbagai cara untuk memiliki anak buah atau INGIN MENJADI PENGUASA, Memiliki TAHTA. Akibatnya saat ini bisa diperhatikan, bagaimana perilaku manusia yang berlomba-lomba untuk mendapatkan KEKUASAAN dengan berbagai cara, bukan lagi takut terhadap amanat yang dibebankan, tapi semata-mata karena ingin memperoleh dari apa-apa yang bisa dilakukan selama berkuasa, memiliki anak buah.

Dan terakhir yang ketiga, yaitu kecenderungan senang pada Harta/Materi/Uang. Pada saat ini hampir semua telah diukur dengan uang dan dinilai dari segi material. Tidak hanya di kota, di desa bahkan di ujung pulau pun semua telah dinilai dengan uang. Kehormatan diri bukan lagi pada perilaku mulia, tapi yang memiliki uang banyak dan memiliki rumah mewahlah yang diagungkan dan dimuliakan ( kata lainnya adalah yang mendapatkan kesempatan lebih mudah untuk memperoleh pendidikan, pelayanan kesehatan, pelayanan publik dan lain-lain ).

Jadi benarlah orang tua kita dulu, bahwa kecenderungan manusia akan HARTA, TAHTA, WANITA ( ini hanya masalah urutan penyebutan saja, tapi intinya sama ) yang mendominasi keinginan hidup manusia pada umumnya.

Hanya manusia-manusia terpilih saja, yang bisa diperjalankan, artinya mereka yang mampu mengendalikan nafsu ( kalau nabi mengendalikan buroq ) sehingga bisa Mi’roj bertemu degan Tuhannya dalam setiap peribadatannya. Mereka-mereka yang kalah karena terbebani oleh nafsu, tidak bisa di-MIROJ-kan “.

Baru sekali ini saya mendapatkan tafsir yang berbeda, dan ini semoga bagian dari taufik-Nya.

Gejayan, Jogja, 9 Juli 2010.

Tulisan ini hadiah untuk anakku, NIAM, yang hari ini ulang tahun.

Share on Facebook
Be Sociable, Share!

Posted in Berita.

Tagged with , , .


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.

*

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

Comments links could be nofollow free.



Skip to toolbar