Skip to content


Ketika Buku Jadi Tirani

Dari opini Utomo Dananjaya, Kompas, Sabtu, 27 Agustus 2005
Oleh: Ading Sutisna

Ilmu menjadi buku,
kitab suci menjadi buku.
Pengalaman dapat dibuat buku.
Dalam perkembangannya,
manusia yang saat ini masih belajar sangat tergantung pada buku,
tidak peduli pada pengalaman.
Citra direndahkan menjadi kata.
Yang terjadi selanjutnya,
Buku mengubah pengalaman menjadi kata-kata,
Mengubah ilmu, eksperimen, dan eksperien menjadi kata-kata.
Ketergantungan manusia terhadap buku,
mengubah proses pembelajaran menjadi proses membaca.
Ketika pengalaman diubah menjadi buku,
orang bukan lagi belajar dari eksperimen dan mengalami,
tetapi orang belajar (hanya) dari membaca.
Maka, orang-orang yang tadinya bekerja di laboratorium,
sekarang bekerja di belakang meja.
Yang semula pembelajaran kaya pengalaman dan perasaan,
sekarang hanya berupa kata-kata saja.
Yang semula sebuah citra, kini hanya menjadi cerita.
Yang tadinya kaya imajinasi, kini terjerat kisi-kisi.

Tragisnya,
buku-buku bacaan di sekolah-sekolah kita,
tidak selengkap ketimbang buku-buku bacaan di tempat lain.
Orang-orang menyusun buku bukan dari hasil percobaan,
tetapi dari buku sumber.
Pengalaman di alam, atau yang dialami
direduksi menjadi kata-kata dalam buku.
Di sekolah-sekolah kita, buku-buku reduksi dan direduksi lagi menjadi
buku-buku ringkas.
Situasi ini menjadikan orang-orang Indonesia bergantung
pada buku-buku yang mutunya sangat rendah.
Yang lebih memprihatinkan,
Jarang terdengar para guru saat ini membicarakan kualitas buku,
apalagi melakukan penelitian tentang hal itu.
Banyak guru, hanya membacakan buku, menyalin buku, bukan mengajak murid-murid untuk terjun ke pengalaman.

Di Indonesia,
Tirani buku betul-betul menjadi kenyataan yang membebani rakyat.
Guru-guru bekerja sama dengan para pedagang buku menjual buku
kepada para murid.
Sekolah menjadi pasar.
Para pedagang buku telah mendikte para guru dengan buku yang dijualnya.
Tiap semester ganti buku dengan alasan ilmu berubah.
Andai guru IPA memahami prinsip-prinsip sains, ia tidak mudah ditipu.
Kapan ilmu berubah?
Mungkin ilmu-ilmu sosial?
Fenomena sosial barangkali berubah cepat.
Misalnya, Gubernur DKI Jakarta sekarang bukan Sutiyoso,
tetapi proses pemilihannya sama.
Baru akan berbeda ketika menjadi pilkadal (pemilihan kepala daerah langsung)
Apakah dengan demikian buku perlu diganti setiap semester atau setiap tahun.

Di negara tetangga,
buku-buku yang diperlukan sudah ada di perpustakaan.
Murid-murid bukan diajarkan membeli buku,
tetapi diajarkan memilih buku di perpustakaan.
Murid-murid akan membaca apa yang diinginkan,
dan apa yang ingin dikuasainya.
Guru tidak akan mengawasi, atau mengharuskan membaca buku ini, atau melarang membaca buku itu.
Murid-murid akan dengan sendirinya memilih buku di perpustakaan,
Mana buku yang mereka suka, dan mana yang cocok dengan kebutuhannya.
Negara tetangga bisa seperti itu, karena pemerintahnya melarang keras.
Pedagang buku mendatangi guru-guru,
apalagi mendatangi para pejabat yang mengurusi masalah pendidikan.
Itu perlunya ada pemerintah.

Kata Adam Smith, “Pemerintah dibutuhkan untuk menjaga ketertiban sosial”.
Maka, kalau ketertiban sosial itu tidak ada.
Apakah kita masih membutuhkan adanya pemerintah?
atau para penyelenggaran negaranya yang perlu kita ganti.

Share on Facebook
Be Sociable, Share!

Posted in Berita.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.

*

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

Comments links could be nofollow free.



Skip to toolbar