Skip to content


Optimalisasi Pengelolaan Energi

Bagaimana mengelola energi untuk menjamin ketahanan energi bagi bangsa Indonesia ? Topik ini tidak pernah habis untuk didiskusikan, dibahas, dirumuskan dalam rangka menjamin pasokan energi di Indonesia yang memadai. Abdul Syakur, ST. MT. mahasiswa S3 Teknik Elektro UGM, juga sebagai dosen Teknik Elektro Undip saat menghadiri Seminar Nasional Optimalisasi Pengelolaan Energi menyampaikan keprihatinannya dengan kondisi pengelolaan energi saat ini.

Dalam seminar nasional yang membahas mengenai optimalisasi pengelolaan energi, mestinya tidak hanya dilihat dari sisi produksi energi saja / dari sisi produksi (Supply Side Management = SSM) tapi juga harus dilihat dari sisi penggunaan (Demand Side Management = DSM). Semua pembicara menyampaikan optimalisasi pengelolaan energi dari sisi produksi. Padahal mengelola energi juga bisa dari sisi pengguna (user) dimana pada saat ini, konsumsi energi mengalami peningkatan secara deret ukur, sementara pasokan energi listrik bertambah secara deret hitung, tentu ini akan mengalami krisis pada waktunya. karena pertumbuhan beban sangat tinggi, tidak diimbangi dengan petumbuhan penyediaan listrik.

Oleh karena itu, tidak hanya di sisi penyediaan listrik saja yang harus dikejar untuk segera menambah pasokan energi, namun secara paralel di sisi konsumen juga harus dilakukan langkah-langkah penghematan atau Konservasi Energi.

Penghematan energi listrik bukan berarti mengurangi penggunaan energi listrik yang menyebabkan fungsi utama kerja dan produksi menjadi menurun. Namun mengurangi pemakaian energi listrik, untuk hal-hal yang tidak perlu dan bersifat membuang-buang energi listrik. Banyak fenomena dijumpai dewasa ini mengenai sifat tidak hemat atau boros dalam menggunakan energi listrik. Contoh paling mudah adalah penggunaan pengkondisi udara (air conditioner) untuk medapatkan ruangan menjadi dingin, padahal penghuni ruangan tidak ada di tempat, atau mendinginkan ruangan, tapi si pengguna ruangan mengguna jaket pelindung suhu dingin. Ini salah satu tindakan pemborosan.

Contoh-contoh tindakan tidak hemat listrik atau  boros masih sangat banyak, namun persentase paling besar pemborosan energi listrik terutama dari penggunaan AC. Lalu boros dalam penggunaan elemen pemanas seperti setrika listrik, kompor listrik dan alat lain karena penggunaannya tidak diatur dengan tepat. Kondisi TV dan perlatan elektronik lain yang selalu pada posisi standby ON, juga menyerap energi listrik, padahal peralatan tersebut tidak sedang digunakan. Terakhir, tindakan penghematan energi listrik bisa dilakukan dengan mengganti lampu-lampu tidak hemat listrik dengan lampu yang hemat listrik, misalnya lampu jenis LED. Sekarang sudah dikembangkan lampu jenis LED yang menyerap energi listrik sedikit tapi memberikan efek cahaya yang cukup terang.

Mari gunakan energi listrik secara hemat. Pemborosan terhadap pemakaian energi listrik, mempercepat terjadinya Krisis Energi Listrik.

Share on Facebook

Posted in Berita, Opini.


Proteksi Petir pada Saluran Transmisi

Saluran Transmisi Tenaga Listrik merupakan salah satu bagian utama dari Sistem Tenaga Listrik yang memiliki fungsi untuk menyalurkan daya listrik dari pusat pembangkit ke gardu-gardu listrik distribusi. Saluran transmisi membentang di daerah terbuka dengan kemungkinan mendapat gangguan paling tinggi yaitu terkena sambaran petir.

Gangguan sambaran petir yang mengenai saluran transmisi utamanya akan merusak isolator, sehingga fungsinya akan menurun, bahkan bisa terjadi kerusakan tetap.

lightning 5

Share on Facebook

Posted in Opini.


MTQ Mahasiswa XXV Propinsi Jateng

MTQ Mahasiswa XXV Propinsi Jateng dilaksanakan di Islamic Centre, 1 – 3 Mei 2015.

20150503_112052

Share on Facebook

Posted in Berita.


Kerjasama LPPM, Tingkatkan Kualitas PKM

Tahun 2015, jumlah proposal PKM Undip yang didanai Dikti meningkat. Jika pada tahun 2013 ada 150 PKM yang didanai Dikti, lalu meningkat pada tahun 2014 menjadi 231 proposal PKM lolos didanai Dikti. Tentu saja bertambahnya jumlah proposal PKM mahasiswa Undip ini juga seiring dengan semakin bertambahnya jumlah proposal PKM yang berhasil diunggah ke web simlitabmas Dikti.

tim PIMNAS 2014

Namun demikian, bertambahnya jumlah proposal PKM yang didanai Dikti ini, harus diiringi dengan meningkatnya kualitas PKM. Jangan sampai secara kuantitas meningkat, tapi dari segi kualitas menurun, ini yang harus diantisipasi, demikian kata Abdul Syakur, ST. MT. dosen Teknik Elektro FT Undip yang pernah menjabat sebagai Staf Ahli PR III periode 2011 – 2014. Oleh karena itu, usaha-usaha ke arah peningkatan kualitas proposal PKM terus dilakukan. Selama ini, pendampingan pelaksanaan PKM mahasiswa Undip telah mendapatkan dukungan penuh dari pengurus BEM KM Undip bidang Riset, serta pengayaan materi PKM oleh Tim 17. Sejarah Tim 17 terbentuk adalah saat Undip mengikuti PIMNAS di UMY Yogyakarta tahun 2014 berhasil mengirimkan 17 kelompok PKM. Selanjutnya para mahasiswa yang telah menjadi alumni PIMNAS diminta kesediaan secara sukarela untuk membimbing dan mendampingi adik-adik mahasiswa ketika melaksanakan kegiatan PKM, menyiapkan diri pada saat akan Monev Dikti dan saat akan berangkat ke ajang PIMNAS.

Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah PKM, tahun 2015 ini bidang Kemahasiswaan menggandeng LPPM untuk meningkatkan kualitas PKM. Senin, 23 Pebruari 2015 bertempat di ruang sidang BAK, dilaksanakan koordinasi dengan para Reviewer dari LPPM Undip untuk membahas langkah-langkah teknis bagaimana memantau pelaksanaan PKM oleh Mahasiswa. Di hadapan para Reviewer yang hadir, Abdul Syakur, ST. MT. menyampaikan maksud dan tujuan bidang Kemahasiswaan bekerja sama dengan LPPM. Schedule kegiatan PKM yang akan dilaksanakan oleh mahasiswa, sejak PKM dinyatakan lolos didanai, persiapan Monev Internal dan target pada saat Monev Dikti. Mahasiswa dan dosen pembimbing supaya memperhatikan 0.2*NLK dan 0.5*NM, agar bisa lolos ke PIMNAS 28 nanti.

Hadir dalam rapat koordinasi, Dr. Bambang Sulistyanto, Pembantu Dekan III FPP, menyampaikan point-point penting kerja sama antara bidang Kemahasiswaan dengan LPPM dalam rangka ikut meningkatkan kualitas PKM. Diharapkan, mahasiswa bisa melaksanakan kegiatan PKM dengan sebaik-baiknya dan secara optimal sesuai dengan yang telah dibuat dalam proposal PKM yang tekah dinyatakan lolos didanai.

Selamat melaksanakan kegiatan PKM dengan Kreativ, semoga kalian bisa mengukir prestasi yang baik di ajang PIMNAS 28 nanti.

 

Jogja, 25 Pebruari 2015.

 

Share on Facebook

Posted in Berita, Kemahasiswaan.

Tagged with , , .


BTS Undip Proteksi Petir Gedung Widaya Puraya

BTS Undip yang berdiri megah di belakang gedung Widaya Puraya tentu dibangun fungsi utamanya bukan sebagai proteksi petir. Namun sebagai pemancar radio atau TV. Juga bisa berfungsi untuk memancarkan gelombang untuk keperluan komunikasi internet dan intranet. Namun sejak dibangun hingga sampai dengan ditulisnya artikel ini, tampaknya menara tersebut belum difungsikan sebagaimana mestinya.

BTS Undip Meskipun demikian, menara BTS ini secara otomatis bisa berfungsi sebagai sistem proteksi petir (SPP) eksternal bagi gedung-gedung yang berada di sekitarnya dari sambaran petir secara langsung.

Menara yang menjulang dilengkapi dengan finial pada bagian puncak mengkondisikan ketika ada muatan listrik di awan, pada bagian finial inilah yang akan memulai untuk terjadi pelepasan muatan listrik atau disebut initiation process. Semakin besar muatan listrik yang terbentuk di awan, maka pelepasan muatan listrik di ujung finial akan semakin besar, sehingga akan mudah tertarik ke awan.

Jika kuat medan listrik E antara awan dengan ujung finial telah mencapai titik kritis kuat tembus udara, maka sangat dimungkinkan terjadinya aliran muatan listrik dari awan ke menara tersebut. Peristiwa alam seperti ini biasa disebut terjadi sambaran petir.

Sambaran petir akan mencari struktur-struktur yang menjulang tinggi, utamanya yang terbuat dari logam, karena proses inisiasi ini paling mudah terjadi apalagi berbentuk lancip. Makanya struktur tinggi seperti menara BTS, menara pancar radio, menara transmisi listrik dan gedung bertingkat yang dilengkapi dengan sistem proteksi petir adalah media yang paling senang “dikunjungi” oleh petir ini.

Hal yang perlu menjadi perhatian utama adalah sistem grounding yang ada di menara BTS ini, harus dibuat sedemikian rupa agar saat petir ini datang, muatan listriknya bisa dialirkan segera ke tanah dan habis, tidak menimbulkan efek yang merusak pada peralatan dan orang yang ada di sekitar menara.

Semoga menara BTS Undip yang bediri megah ini bukan hanya sebagai proteksi petir bagi gedung Widya Puraya, tapi segera bisa dimanfaatkan sebagaimana fungsi utamanya.

Catatan : begitu selesai artikel ini saya tulis dan saya unggah, langsung disusul sambaran petir sekali.

Share on Facebook

Posted in Berita, Opini.

Tagged with , .


Rencana Kerja 2015

Tahun 2014 telah selesai dan berganti memasuki tahun 2015. Rencana kerja yang harus diselesaikan, yang menjadi prioritas utama adalah Menyelesaikan Studi Doktoral di Teknik Elektro UGM Yogyakarta. Rencana kerja yang lain, tentu sebagai komplemen, bukan utama.

Share on Facebook

Posted in Berita.


LKMM Pra Dasar dan PIM FK UNDIP

Himpunan Mahasiswa Elektro menyelenggarakan kegiatan LKMM Pra Dasar untuk Mahasiswa Baru 2014. Abdul Syakur, ST. MT sebagai pembicara pertama menyampaikan materi mengenai Analisis Potensi Diri. –> Selanjutnya

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran (BEM FK) Undip, mengadakan kegiatan Pekan Ilmiah Mahasiswa (PIM) bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran. Jumlah proposal PKM yang berhasil masuk final ada 10 proposal dari PKMP, PKMKC, PKMK dan PKMGT. Abdul Syakur, ST. MT sebagai juri PIM bersama Fahmi Arifan ST. M.Eng dan Supriyadi, SKM. MKes, memberikan penilaian terhadap 10 finalis PIM. Masing-masing kelompok mempresentasikan proposal PKM. –> Selanjutnya

Share on Facebook

Posted in Berita, Kemahasiswaan.


Pengenalan PKM bagi Mahasiswa PWK Undip

Untuk mengenalkan Program Kreativitas Mahasiswa bagi Mahasiswa Baru 2014 Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Undip, telah diselenggarakan Acara PKM Got Talent : PKM Karya Terbaikku, 2014 oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Planologi (HMTP) pada hari Minggu, 12 Oktober 2014 di Aula Gedung Kuliah PWK.

Abdul Syakur, ST. MT. sebagai pembicara pertama, menyampaikan materi mengenai PKM 5 Bidang dan PKM KT (Karya Tulis). PKM 5 Bidang meliputi PKM Penelitian (PKMP), PKM Kewirausahaan (PKMK), PKM pengabdian Masyarakat (PKMM), PKM Teknologi (PKMT) dan PKM Karsa Cipta (PKMKC). Sedangkan PKMKT yaitu PKM Karya Tulis terdiri dari dua jenis PKM yaitu PKM Gagasan Tertulis (PKM GT) dan PKM Artikel Ilmiah (PKM AI). Dari sekian jenis PKM ini, semuanya bermuara pada kegiatan PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional), kecuali PKM AI bermuara menjadi artikel yang diterbitkan dalam bentuk e-Journal.

“Pembuatan proposal PKM 5 harus mengacu pada Buku Panduan PKM tahun 2014 yang diterbitkan oleh Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Kemdikbud. Panduan PKM ini akan selalu diupdate setiap tahunnya, sehingga para Mahasiswa harus benar-benar teliti dalam membuat proposal PKM. Kesalahan format dan tata tulis menyebabkan proposal tidak akan direview” tutur Abdul Syakur menjelaskannya.

Got Talent 2 PWK

Got Talent 1 PWK

 

Para peserta pelatihan antusias mengikuti kegiatan pelatihan ini, untuk bekal dalam membuat proposal PKM tahun depan, yaitu tahun 2015. Hal ini mengingat, proposal PKM tahun 2014 sudah selesai diunggah dan pendaftaran sudah ditutup. Peserta diberikan tips dan saran agar dalam mencari gagasan yang akan dibuat menjadi judul PKM supaya disiapkan jauh-jauh hari. Gagasan bisa bersumber dari hasil pengamatan terhadap lingkungan sekitar, atau membaca laporan tugas akhir, membaca berita di koran atau harian, juga bisa berasal dari media TV. Kemampuan menganalisis setiap kondisi yang terjadi di sekitar lingkungan, memudahkan seorang mahasiswa untuk membuat proposal PKM.

Tips, trik dan strategi untuk memperoleh judul-judul PKM yang bermutu, akan dituliskan dalam buku Menggali Gagasan untuk Membuat Proposal PKM. Selamat belajar, berinovasi dan berkreativitas. Semoga setelah mengikuti kegiatan PKM Got Talent 2014 ini, proposal PKM yang dihasilkan oleh mahasiwa semakin meningkat kuantitas dan kualitasnya.

Share on Facebook

Posted in Berita.


Mengapa saya puasa sunah arofah hari ini

Hari Jumat, 3 Oktober 2014, bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah waktu Makkah, suadara muslim yang sedang melaksanakan ibadah haji akan melaksanakan wukuf di Arofah. Inilah puncak ibadah haji, yaitu melaksanakan wukuf di padang arofah. Nabi bersabda : Haji adalah Arofah. Artinya mereka yang melaksanakan ibadah haji, jika tidak melaksanakan wukuf di padang Arofah, maka tidaklah disebut mereka telah berhaji.

Bagi umat muslim yang tidak sedang melaksanakan wukuf di padang Arofah, disunahkan untuk melaksanakan puasa sunah. Ketika di Arofah hari ini waktu siang, saudara muslim yang berada di sekitar wilayah Arofah juga merasakan siang yang sama, sehingga mereka bisa melaksanakan puasa sunah.

Namun bagi saudara saya yang berada di belahan bumi yang lain, pada saat yang sama sedang memasuki waktu malam. Hingga terasalah kesedihan mereka tidak bisa melaksanakan puasa sunah arofah, karena di negeri mereka pada saat yang sama sedang waktu malam.

Lalu kapan mereka yang berada di belahan bumi yang lain, seharusnya berpuasa sunah arofah ? Jika menunggu pagi tiba, tentu di arofah sudah selesai pelaksanaan wukufnya. Berarti saudara yang berada di belahan bumi yang lain tidak mendapatkan kemuliaan ibadah puasa sunah bersamaan dengan pelaksanaan wukuf di arofah.

Kalau demikian, puasa sunah arofah hanya bagi mereka umat muslim yang berdekatan dengan padang Arofah, sehingga waktu pelaksanaan puasa arofah bersamaan dengan wukufnya ibadah haji di Arofah. Ini tentu tidak adil bagi umat Muslim yang sudah tersebar ke seluruh dunia.

Lalu bagaimana semestinya umat muslim lain berpuasa arofah ? Bolehkan puasa sunah arofah dilaksanakan, sementara wukuf di arofah sudah selesai dilaksanakan ? Inilah yang menjadi pertanyaan mendasar saya, mengapa lalu saya memutuskan untuk puasa sunah arofah hari ini, Sabtu 4 Oktober 2014 bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah, di negara Indonesia.

Ini adalah tanya jawab seputar puasa sunah Arofah yang saya copy dari Faceeboo bapak Prakosa Rachwibowo :

Puasa Arafah Berbeda dengan Hari Arafah ?

Jika terjadi perbedaan dalam menentukan tanggal 9 Dzulhijjah, antara pemerintah Indonesia dengan Saudi, mana yang harus diikuti? Kami bingung dalam menentukan kapan puasa arafah?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du

Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini,

Pertama, puasa arafah mengikuti wuquf di arafah.

Ini merupakan pendapat Lajnah Daimah (Komite Fatwa dan Penelitian Ilmiyah) Arab Saudi. Mereka berdalil dengan pengertian hari arafah, bahwa hari arafah adalah hari dimana para jamaah haji wukuf di Arafah. Tanpa memandang tanggal berapa posisi hari ini berada.

Dalam salah satu fatwanya tentang perbedaan tanggal antara tanggal 9 Dzulhijjah di luar negeri dengan hari wukuf di arafah di Saudi, Lajnah Daimah menjelaskan,

يوم عرفة هو اليوم الذي يقف الناس فيه بعرفة، وصومه مشروع لغير من تلبس بالحج، فإذا أردت أن تصوم فإنك تصوم هذا اليوم، وإن صمت يوماً قبله فلا بأس
Hari arafah adalah hari dimana kaum muslimin melakukan wukuf di Arafah. Puasa arafah dianjurkan, bagi orang yang tidak melakukan haji. Karena itu, jika anda ingin puasa arafah, maka anda bisa melakukan puasa di hari itu (hari wukuf). Dan jika anda puasa sehari sebelumnya, tidak masalah. (Fatawa Lajnah Daimah, no. 4052)

Kedua, puasa arafah sesuai tanggal 9 Dzulhijjah di daerah setempat

Karena penentuan ibadah yang terkait dengan waktu, ditentukan berdasarkan waktu dimana orang itu berada. Dan hari arafah adalah hari yang bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah. Sehingga penentuannya kembali kepada penentuan kalender di mana kaum muslimin berada.

Pendapat ini ditegaskan oleh Imam Ibnu Utsaimin. Beliau pernah ditanya tentang perbedaan dalam menentukan hari arafah. Kita simak keterangan beliau,

والصواب أنه يختلف باختلاف المطالع ، فمثلا إذا كان الهلال قد رؤي بمكة ، وكان هذا اليوم هو اليوم التاسع ، ورؤي في بلد آخر قبل مكة بيوم وكان يوم عرفة عندهم اليوم العاشر فإنه لا يجوز لهم أن يصوموا هذا اليوم لأنه يوم عيد ، وكذلك لو قدر أنه تأخرت الرؤية عن مكة وكان اليوم التاسع في مكة هو الثامن عندهم ، فإنهم يصومون يوم التاسع عندهم الموافق ليوم العاشر في مكة ، هذا هو القول الراجح ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم يقول ( إذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا )
Yang benar, semacam ini berbeda-beda, sesuai perbedaan mathla’ (tempat terbit hilal). Sebagai contoh, kemarin hilal sudah terlihat di Mekah, dan hari ini adalah tanggal 9 Dzulhijjah. Sementara di negeri lain, hilal terlihat sehari sebelum Mekah, sehingga hari wukuf arafah menurut warga negara lain, jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah, maka pada saat itu, tidak boleh bagi mereka untuk melakukan puasa. Karena hari itu adalah hari raya bagi mereka.

Demikian pula sebaliknya, ketika di Mekah hilal terlihat lebih awal dari pada negara lain, sehingga tanggal 9 di Mekah, posisinya tanggal 8 di negara tersebut, maka penduduk negara itu melakukan puasa tanggal 9 menurut kalender setempat, yang bertepatan dengan tanggal 10 di Mekah. Inilah pendapat yang kuat. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا
Apabila kalian melihat hilal, lakukanlah puasa dan apabila melihat hilal lagi, (hari raya), jangan puasa. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, volume 20, hlm. 28)

Dari keterangan di atas, kita bisa memahami bahwa perbedaan penentuan hari arafah, kembali kepada dua pertimbangan:

Pertama, apakah perbedaan tempat terbit hilal (Ikhtilaf Mathali’) mempengaruhi perbedaan dalam penentuan tanggal ataukah tidak.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa dalam menentukan tanggal awal bulan, kaum muslimin di seluruh dunia disatukan. Sehingga perbedaan tempat terbit hilal tidak mempengaruhi perbedaan tanggal.

Sementara sebagian ulama berpendapat bahwa perbedaan mathali’ mempengaruhi perbedaan penentuan awal bulan di masing-masing daerah. Ini meruakan pendapat Ikrimah, al-Qosim bin Muhammad, Salim bin Abdillah bin Umar, Imam Malik, Ishaq bin Rahuyah, dan Ibnu Abbas. (Fathul Bari, 4/123).

Dari dua pendapat ini, insyaaAllah yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat kedua. Adanya perbedaan tempat terbit hilal, mempengaruhi perbedaan penentuan tanggal. Hal ini berdasarkan riwayat dari Kuraib – mantan budak Ibnu Abbas –, bahwa Ummu Fadhl bintu al-Harits (Ibunya Ibnu Abbas) pernah menyuruhnya untuk menemui Muawiyah di Syam, dalam rangka menyelesaikan suatu urusan.

Kuraib melanjutkan kisahnya,

Setibanya di Syam, saya selesaikan urusan yang dititipkan Ummu Fadhl. Ketika itu masuk tanggal 1 ramadhan dan saya masih di Syam. Saya melihat hilal malam jumat. Kemudian saya pulang ke Madinah. Setibanya di Madinah di akhir bulan, Ibnu Abbas bertanya kepadaku

“Kapan kalian melihat hilal?” tanya Ibnu Abbas.

“kami melihatnya malam jumat.” Jawab Kuraib.

“Kamu melihatnya sendiri?” tanya Ibnu Abbas.

“Ya, saya melihatnya dan masyarakatpun melihatnya. Mereka puasa dan Muawiyahpun puasa.” Jawab Kuraib.

Ibnu Abbas menjelaskan,

لكنا رأيناه ليلة السبت، فلا نزال نصوم حتى نكمل ثلاثين أو نراه
“Kalau kami melihatnya malam sabtu. Kami terus berpuasa, hingga kami selesaikan selama 30 hari atau kami melihat hilal Syawal.”

Kuraib bertanya lagi,

“Mengapa kalian tidak mengikuti rukyah Muawiyah dan puasanya Muawiyah?”

Jawab Ibnu Abbas,

لا هكذا أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Tidak, seperti ini yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kami.” (HR. Muslim 2580, Nasai 2111, Abu Daud 2334, Turmudzi 697, dan yang lainnya).

Kedua, batasan hari arafah

Sebagian ulama menyebutkan bahwa puasa arafah adalah puasa pada hari di mana jamaah haji melakukan wukuf di arafah. Tanpa mempertimbangkan perbedaan tanggal dan waktu terbitnya hilal.

Sementara ulama lain berpendapat bahwa hari arafah adalah hari yang bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah. Sehingga sangat memungkinkan masing-masing daerah berbeda.

Ada satu pertimbangan sehingga kita bisa memilih pendapat yang benar dari dua keterangan di atas. Terlepas dari kajian ikhtilaf mathali’ (perbedaan tempat terbit hilal) di atas.

Kita sepakat bahwa islam adalah agama bagi seluruh alam. Tidak dibatasi waktu dan zaman, sebelum tiba saatnya Allah mencabut islam. Dan seperti yang kita baca dalam sejarah, di akhir dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, islam sudah tersebar ke berbagai penjuru wilayah, yang jarak jangkaunya cukup jauh. Mekah dan Madinah kala itu ditempuh kurang lebih sepekan. Kemudian di zaman para sahabat, islam telah melebar hingga dataran syam dan Iraq. Dengan alat transportasi masa silam, perjalanan dari Mekah menuju ujung wilayah kaum muslimin, bisa menghabiskan waktu lebih dari sebulan.

Karena itu, di masa silam, untuk mengantarkan sebuah info dari Mekah ke Syam atau Mekah ke Kufah, harus menempuh waktu yang sangat panjang. Berbeda dengan sekarang, anda bisa menginformasikan semua kejadian yang ada di tanah suci ke Indonesia, hanya kurang dari 1 detik. Sehingga orang yang berada di tempat sangat jauh sekalipun, bisa mengetahui kapan kegiatan wukuf di arafah, dalam waktu sangat-sangat singkat.

Di sini kita bisa menyimpulkan, jika di masa silam standar hari arafah itu mengikuti kegiatan jamaah haji yang wukuf di arafah, tentu kaum muslimin yang berada di tempat yang jauh dari Mekah, tidak mungkin bisa menerima info tersebut di hari yang sama, atau bahkan harus menunggu beberapa hari.

Jika ini diterapkan, tentu tidak akan ada kaum muslimin yang bisa melaksanakan puasa arafah dalam keadaan yakin telah sesuai dengan hari wukuf di padang arafah. Karena mereka yang jauh dari Mekah sama sekali buta dengan kondisi di Mekah.

Ini berbeda dengan masa sekarang. Hari arafah sama dengan hari wukuf di arafah, bisa dengnan mudah diterapkan. Hanya saja, di sini kita berbicara dengan standar masa silam dan bukan masa sekarang. Karena tidak boleh kita mengatakan, ada satu ajaran agama yang hanya bisa diamalkan secara sempurna di zaman teknologi, sementara itu tidak mungkin dipraktekkan di masa silam.

Oleh karena itu, memahami pertimbangan di atas, satu-satunya yang bisa kita jadikan acuan adalah penanggalan. Hari arafah adalah hari yang bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah, dan bukan hari jamaah haji wukuf di Arafah. Dengan prinsip ini, kita bisa memahammi bahwa syariat puasa arafah bisa dipraktekkan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia tanpa mengenal batas waktu dan tempat.

Allahu a’lam.
Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

 

 

 

Share on Facebook

Posted in Opini.


Dua Senja yang Menginspirasi

Selasa, 30 September 2014, sore itu menjelang senja, saya bergegas untuk sholat mahrib. Usai sholat, bertemu dengan Bapak Sarjiya.

Rabu, 1 Oktober 2014, sore saat hendak pulang dari Perpus FT, berjumpa dengan bu Suning Kusumawardhani

Kamis, 2 Oktober 2014, ada janji dengan Promotor untuk diskusi mengenai materi yang hendak ditulis dalam disertasi saya. Point-point pentingnya adalah : Jenis Bahan Penyusun dan Komposisi Bahan, Sudut Kontak dan Intensitas UV.

Di sisi lain, parameter yang akan diamati adalah : Degradasi permukaan, Arus Bocor, Energi ( Tegangan, Arus, Waktu) yang diperlukan untuk terjadi degradasi permukaan.

 

Share on Facebook

Posted in Berita.



Improve the web with Nofollow Reciprocity.