Skip to content


BTS Undip Proteksi Petir Gedung Widaya Puraya

BTS Undip yang berdiri megah di belakang gedung Widaya Puraya tentu dibangun fungsi utamanya bukan sebagai proteksi petir. Namun sebagai pemancar radio atau TV. Juga bisa berfungsi untuk memancarkan gelombang untuk keperluan komunikasi internet dan intranet. Namun sejak dibangun hingga sampai dengan ditulisnya artikel ini, tampaknya menara tersebut belum difungsikan sebagaimana mestinya.

BTS Undip Meskipun demikian, menara BTS ini secara otomatis bisa berfungsi sebagai sistem proteksi petir (SPP) eksternal bagi gedung-gedung yang berada di sekitarnya dari sambaran petir secara langsung.

Menara yang menjulang dilengkapi dengan finial pada bagian puncak mengkondisikan ketika ada muatan listrik di awan, pada bagian finial inilah yang akan memulai untuk terjadi pelepasan muatan listrik atau disebut initiation process. Semakin besar muatan listrik yang terbentuk di awan, maka pelepasan muatan listrik di ujung finial akan semakin besar, sehingga akan mudah tertarik ke awan.

Jika kuat medan listrik E antara awan dengan ujung finial telah mencapai titik kritis kuat tembus udara, maka sangat dimungkinkan terjadinya aliran muatan listrik dari awan ke menara tersebut. Peristiwa alam seperti ini biasa disebut terjadi sambaran petir.

Sambaran petir akan mencari struktur-struktur yang menjulang tinggi, utamanya yang terbuat dari logam, karena proses inisiasi ini paling mudah terjadi apalagi berbentuk lancip. Makanya struktur tinggi seperti menara BTS, menara pancar radio, menara transmisi listrik dan gedung bertingkat yang dilengkapi dengan sistem proteksi petir adalah media yang paling senang “dikunjungi” oleh petir ini.

Hal yang perlu menjadi perhatian utama adalah sistem grounding yang ada di menara BTS ini, harus dibuat sedemikian rupa agar saat petir ini datang, muatan listriknya bisa dialirkan segera ke tanah dan habis, tidak menimbulkan efek yang merusak pada peralatan dan orang yang ada di sekitar menara.

Semoga menara BTS Undip yang bediri megah ini bukan hanya sebagai proteksi petir bagi gedung Widya Puraya, tapi segera bisa dimanfaatkan sebagaimana fungsi utamanya.

Catatan : begitu selesai artikel ini saya tulis dan saya unggah, langsung disusul sambaran petir sekali.

Share on Facebook

Posted in Berita, Opini.

Tagged with , .


Rencana Kerja 2015

Tahun 2014 telah selesai dan berganti memasuki tahun 2015. Rencana kerja yang harus diselesaikan, yang menjadi prioritas utama adalah Menyelesaikan Studi Doktoral di Teknik Elektro UGM Yogyakarta. Rencana kerja yang lain, tentu sebagai komplemen, bukan utama.

Share on Facebook

Posted in Berita.


LKMM Pra Dasar dan PIM FK UNDIP

Himpunan Mahasiswa Elektro menyelenggarakan kegiatan LKMM Pra Dasar untuk Mahasiswa Baru 2014. Abdul Syakur, ST. MT sebagai pembicara pertama menyampaikan materi mengenai Analisis Potensi Diri. –> Selanjutnya

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran (BEM FK) Undip, mengadakan kegiatan Pekan Ilmiah Mahasiswa (PIM) bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran. Jumlah proposal PKM yang berhasil masuk final ada 10 proposal dari PKMP, PKMKC, PKMK dan PKMGT. Abdul Syakur, ST. MT sebagai juri PIM bersama Fahmi Arifan ST. M.Eng dan Supriyadi, SKM. MKes, memberikan penilaian terhadap 10 finalis PIM. Masing-masing kelompok mempresentasikan proposal PKM. –> Selanjutnya

Share on Facebook

Posted in Berita, Kemahasiswaan.


Pengenalan PKM bagi Mahasiswa PWK Undip

Untuk mengenalkan Program Kreativitas Mahasiswa bagi Mahasiswa Baru 2014 Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Undip, telah diselenggarakan Acara PKM Got Talent : PKM Karya Terbaikku, 2014 oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Planologi (HMTP) pada hari Minggu, 12 Oktober 2014 di Aula Gedung Kuliah PWK.

Abdul Syakur, ST. MT. sebagai pembicara pertama, menyampaikan materi mengenai PKM 5 Bidang dan PKM KT (Karya Tulis). PKM 5 Bidang meliputi PKM Penelitian (PKMP), PKM Kewirausahaan (PKMK), PKM pengabdian Masyarakat (PKMM), PKM Teknologi (PKMT) dan PKM Karsa Cipta (PKMKC). Sedangkan PKMKT yaitu PKM Karya Tulis terdiri dari dua jenis PKM yaitu PKM Gagasan Tertulis (PKM GT) dan PKM Artikel Ilmiah (PKM AI). Dari sekian jenis PKM ini, semuanya bermuara pada kegiatan PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional), kecuali PKM AI bermuara menjadi artikel yang diterbitkan dalam bentuk e-Journal.

“Pembuatan proposal PKM 5 harus mengacu pada Buku Panduan PKM tahun 2014 yang diterbitkan oleh Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Kemdikbud. Panduan PKM ini akan selalu diupdate setiap tahunnya, sehingga para Mahasiswa harus benar-benar teliti dalam membuat proposal PKM. Kesalahan format dan tata tulis menyebabkan proposal tidak akan direview” tutur Abdul Syakur menjelaskannya.

Got Talent 2 PWK

Got Talent 1 PWK

 

Para peserta pelatihan antusias mengikuti kegiatan pelatihan ini, untuk bekal dalam membuat proposal PKM tahun depan, yaitu tahun 2015. Hal ini mengingat, proposal PKM tahun 2014 sudah selesai diunggah dan pendaftaran sudah ditutup. Peserta diberikan tips dan saran agar dalam mencari gagasan yang akan dibuat menjadi judul PKM supaya disiapkan jauh-jauh hari. Gagasan bisa bersumber dari hasil pengamatan terhadap lingkungan sekitar, atau membaca laporan tugas akhir, membaca berita di koran atau harian, juga bisa berasal dari media TV. Kemampuan menganalisis setiap kondisi yang terjadi di sekitar lingkungan, memudahkan seorang mahasiswa untuk membuat proposal PKM.

Tips, trik dan strategi untuk memperoleh judul-judul PKM yang bermutu, akan dituliskan dalam buku Menggali Gagasan untuk Membuat Proposal PKM. Selamat belajar, berinovasi dan berkreativitas. Semoga setelah mengikuti kegiatan PKM Got Talent 2014 ini, proposal PKM yang dihasilkan oleh mahasiwa semakin meningkat kuantitas dan kualitasnya.

Share on Facebook

Posted in Berita.


Mengapa saya puasa sunah arofah hari ini

Hari Jumat, 3 Oktober 2014, bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah waktu Makkah, suadara muslim yang sedang melaksanakan ibadah haji akan melaksanakan wukuf di Arofah. Inilah puncak ibadah haji, yaitu melaksanakan wukuf di padang arofah. Nabi bersabda : Haji adalah Arofah. Artinya mereka yang melaksanakan ibadah haji, jika tidak melaksanakan wukuf di padang Arofah, maka tidaklah disebut mereka telah berhaji.

Bagi umat muslim yang tidak sedang melaksanakan wukuf di padang Arofah, disunahkan untuk melaksanakan puasa sunah. Ketika di Arofah hari ini waktu siang, saudara muslim yang berada di sekitar wilayah Arofah juga merasakan siang yang sama, sehingga mereka bisa melaksanakan puasa sunah.

Namun bagi saudara saya yang berada di belahan bumi yang lain, pada saat yang sama sedang memasuki waktu malam. Hingga terasalah kesedihan mereka tidak bisa melaksanakan puasa sunah arofah, karena di negeri mereka pada saat yang sama sedang waktu malam.

Lalu kapan mereka yang berada di belahan bumi yang lain, seharusnya berpuasa sunah arofah ? Jika menunggu pagi tiba, tentu di arofah sudah selesai pelaksanaan wukufnya. Berarti saudara yang berada di belahan bumi yang lain tidak mendapatkan kemuliaan ibadah puasa sunah bersamaan dengan pelaksanaan wukuf di arofah.

Kalau demikian, puasa sunah arofah hanya bagi mereka umat muslim yang berdekatan dengan padang Arofah, sehingga waktu pelaksanaan puasa arofah bersamaan dengan wukufnya ibadah haji di Arofah. Ini tentu tidak adil bagi umat Muslim yang sudah tersebar ke seluruh dunia.

Lalu bagaimana semestinya umat muslim lain berpuasa arofah ? Bolehkan puasa sunah arofah dilaksanakan, sementara wukuf di arofah sudah selesai dilaksanakan ? Inilah yang menjadi pertanyaan mendasar saya, mengapa lalu saya memutuskan untuk puasa sunah arofah hari ini, Sabtu 4 Oktober 2014 bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah, di negara Indonesia.

Ini adalah tanya jawab seputar puasa sunah Arofah yang saya copy dari Faceeboo bapak Prakosa Rachwibowo :

Puasa Arafah Berbeda dengan Hari Arafah ?

Jika terjadi perbedaan dalam menentukan tanggal 9 Dzulhijjah, antara pemerintah Indonesia dengan Saudi, mana yang harus diikuti? Kami bingung dalam menentukan kapan puasa arafah?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du

Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini,

Pertama, puasa arafah mengikuti wuquf di arafah.

Ini merupakan pendapat Lajnah Daimah (Komite Fatwa dan Penelitian Ilmiyah) Arab Saudi. Mereka berdalil dengan pengertian hari arafah, bahwa hari arafah adalah hari dimana para jamaah haji wukuf di Arafah. Tanpa memandang tanggal berapa posisi hari ini berada.

Dalam salah satu fatwanya tentang perbedaan tanggal antara tanggal 9 Dzulhijjah di luar negeri dengan hari wukuf di arafah di Saudi, Lajnah Daimah menjelaskan,

يوم عرفة هو اليوم الذي يقف الناس فيه بعرفة، وصومه مشروع لغير من تلبس بالحج، فإذا أردت أن تصوم فإنك تصوم هذا اليوم، وإن صمت يوماً قبله فلا بأس
Hari arafah adalah hari dimana kaum muslimin melakukan wukuf di Arafah. Puasa arafah dianjurkan, bagi orang yang tidak melakukan haji. Karena itu, jika anda ingin puasa arafah, maka anda bisa melakukan puasa di hari itu (hari wukuf). Dan jika anda puasa sehari sebelumnya, tidak masalah. (Fatawa Lajnah Daimah, no. 4052)

Kedua, puasa arafah sesuai tanggal 9 Dzulhijjah di daerah setempat

Karena penentuan ibadah yang terkait dengan waktu, ditentukan berdasarkan waktu dimana orang itu berada. Dan hari arafah adalah hari yang bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah. Sehingga penentuannya kembali kepada penentuan kalender di mana kaum muslimin berada.

Pendapat ini ditegaskan oleh Imam Ibnu Utsaimin. Beliau pernah ditanya tentang perbedaan dalam menentukan hari arafah. Kita simak keterangan beliau,

والصواب أنه يختلف باختلاف المطالع ، فمثلا إذا كان الهلال قد رؤي بمكة ، وكان هذا اليوم هو اليوم التاسع ، ورؤي في بلد آخر قبل مكة بيوم وكان يوم عرفة عندهم اليوم العاشر فإنه لا يجوز لهم أن يصوموا هذا اليوم لأنه يوم عيد ، وكذلك لو قدر أنه تأخرت الرؤية عن مكة وكان اليوم التاسع في مكة هو الثامن عندهم ، فإنهم يصومون يوم التاسع عندهم الموافق ليوم العاشر في مكة ، هذا هو القول الراجح ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم يقول ( إذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا )
Yang benar, semacam ini berbeda-beda, sesuai perbedaan mathla’ (tempat terbit hilal). Sebagai contoh, kemarin hilal sudah terlihat di Mekah, dan hari ini adalah tanggal 9 Dzulhijjah. Sementara di negeri lain, hilal terlihat sehari sebelum Mekah, sehingga hari wukuf arafah menurut warga negara lain, jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah, maka pada saat itu, tidak boleh bagi mereka untuk melakukan puasa. Karena hari itu adalah hari raya bagi mereka.

Demikian pula sebaliknya, ketika di Mekah hilal terlihat lebih awal dari pada negara lain, sehingga tanggal 9 di Mekah, posisinya tanggal 8 di negara tersebut, maka penduduk negara itu melakukan puasa tanggal 9 menurut kalender setempat, yang bertepatan dengan tanggal 10 di Mekah. Inilah pendapat yang kuat. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا
Apabila kalian melihat hilal, lakukanlah puasa dan apabila melihat hilal lagi, (hari raya), jangan puasa. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, volume 20, hlm. 28)

Dari keterangan di atas, kita bisa memahami bahwa perbedaan penentuan hari arafah, kembali kepada dua pertimbangan:

Pertama, apakah perbedaan tempat terbit hilal (Ikhtilaf Mathali’) mempengaruhi perbedaan dalam penentuan tanggal ataukah tidak.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa dalam menentukan tanggal awal bulan, kaum muslimin di seluruh dunia disatukan. Sehingga perbedaan tempat terbit hilal tidak mempengaruhi perbedaan tanggal.

Sementara sebagian ulama berpendapat bahwa perbedaan mathali’ mempengaruhi perbedaan penentuan awal bulan di masing-masing daerah. Ini meruakan pendapat Ikrimah, al-Qosim bin Muhammad, Salim bin Abdillah bin Umar, Imam Malik, Ishaq bin Rahuyah, dan Ibnu Abbas. (Fathul Bari, 4/123).

Dari dua pendapat ini, insyaaAllah yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat kedua. Adanya perbedaan tempat terbit hilal, mempengaruhi perbedaan penentuan tanggal. Hal ini berdasarkan riwayat dari Kuraib – mantan budak Ibnu Abbas –, bahwa Ummu Fadhl bintu al-Harits (Ibunya Ibnu Abbas) pernah menyuruhnya untuk menemui Muawiyah di Syam, dalam rangka menyelesaikan suatu urusan.

Kuraib melanjutkan kisahnya,

Setibanya di Syam, saya selesaikan urusan yang dititipkan Ummu Fadhl. Ketika itu masuk tanggal 1 ramadhan dan saya masih di Syam. Saya melihat hilal malam jumat. Kemudian saya pulang ke Madinah. Setibanya di Madinah di akhir bulan, Ibnu Abbas bertanya kepadaku

“Kapan kalian melihat hilal?” tanya Ibnu Abbas.

“kami melihatnya malam jumat.” Jawab Kuraib.

“Kamu melihatnya sendiri?” tanya Ibnu Abbas.

“Ya, saya melihatnya dan masyarakatpun melihatnya. Mereka puasa dan Muawiyahpun puasa.” Jawab Kuraib.

Ibnu Abbas menjelaskan,

لكنا رأيناه ليلة السبت، فلا نزال نصوم حتى نكمل ثلاثين أو نراه
“Kalau kami melihatnya malam sabtu. Kami terus berpuasa, hingga kami selesaikan selama 30 hari atau kami melihat hilal Syawal.”

Kuraib bertanya lagi,

“Mengapa kalian tidak mengikuti rukyah Muawiyah dan puasanya Muawiyah?”

Jawab Ibnu Abbas,

لا هكذا أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Tidak, seperti ini yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kami.” (HR. Muslim 2580, Nasai 2111, Abu Daud 2334, Turmudzi 697, dan yang lainnya).

Kedua, batasan hari arafah

Sebagian ulama menyebutkan bahwa puasa arafah adalah puasa pada hari di mana jamaah haji melakukan wukuf di arafah. Tanpa mempertimbangkan perbedaan tanggal dan waktu terbitnya hilal.

Sementara ulama lain berpendapat bahwa hari arafah adalah hari yang bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah. Sehingga sangat memungkinkan masing-masing daerah berbeda.

Ada satu pertimbangan sehingga kita bisa memilih pendapat yang benar dari dua keterangan di atas. Terlepas dari kajian ikhtilaf mathali’ (perbedaan tempat terbit hilal) di atas.

Kita sepakat bahwa islam adalah agama bagi seluruh alam. Tidak dibatasi waktu dan zaman, sebelum tiba saatnya Allah mencabut islam. Dan seperti yang kita baca dalam sejarah, di akhir dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, islam sudah tersebar ke berbagai penjuru wilayah, yang jarak jangkaunya cukup jauh. Mekah dan Madinah kala itu ditempuh kurang lebih sepekan. Kemudian di zaman para sahabat, islam telah melebar hingga dataran syam dan Iraq. Dengan alat transportasi masa silam, perjalanan dari Mekah menuju ujung wilayah kaum muslimin, bisa menghabiskan waktu lebih dari sebulan.

Karena itu, di masa silam, untuk mengantarkan sebuah info dari Mekah ke Syam atau Mekah ke Kufah, harus menempuh waktu yang sangat panjang. Berbeda dengan sekarang, anda bisa menginformasikan semua kejadian yang ada di tanah suci ke Indonesia, hanya kurang dari 1 detik. Sehingga orang yang berada di tempat sangat jauh sekalipun, bisa mengetahui kapan kegiatan wukuf di arafah, dalam waktu sangat-sangat singkat.

Di sini kita bisa menyimpulkan, jika di masa silam standar hari arafah itu mengikuti kegiatan jamaah haji yang wukuf di arafah, tentu kaum muslimin yang berada di tempat yang jauh dari Mekah, tidak mungkin bisa menerima info tersebut di hari yang sama, atau bahkan harus menunggu beberapa hari.

Jika ini diterapkan, tentu tidak akan ada kaum muslimin yang bisa melaksanakan puasa arafah dalam keadaan yakin telah sesuai dengan hari wukuf di padang arafah. Karena mereka yang jauh dari Mekah sama sekali buta dengan kondisi di Mekah.

Ini berbeda dengan masa sekarang. Hari arafah sama dengan hari wukuf di arafah, bisa dengnan mudah diterapkan. Hanya saja, di sini kita berbicara dengan standar masa silam dan bukan masa sekarang. Karena tidak boleh kita mengatakan, ada satu ajaran agama yang hanya bisa diamalkan secara sempurna di zaman teknologi, sementara itu tidak mungkin dipraktekkan di masa silam.

Oleh karena itu, memahami pertimbangan di atas, satu-satunya yang bisa kita jadikan acuan adalah penanggalan. Hari arafah adalah hari yang bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah, dan bukan hari jamaah haji wukuf di Arafah. Dengan prinsip ini, kita bisa memahammi bahwa syariat puasa arafah bisa dipraktekkan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia tanpa mengenal batas waktu dan tempat.

Allahu a’lam.
Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

 

 

 

Share on Facebook

Posted in Opini.


Dua Senja yang Menginspirasi

Selasa, 30 September 2014, sore itu menjelang senja, saya bergegas untuk sholat mahrib. Usai sholat, bertemu dengan Bapak Sarjiya.

Rabu, 1 Oktober 2014, sore saat hendak pulang dari Perpus FT, berjumpa dengan bu Suning Kusumawardhani

Kamis, 2 Oktober 2014, ada janji dengan Promotor untuk diskusi mengenai materi yang hendak ditulis dalam disertasi saya. Point-point pentingnya adalah : Jenis Bahan Penyusun dan Komposisi Bahan, Sudut Kontak dan Intensitas UV.

Di sisi lain, parameter yang akan diamati adalah : Degradasi permukaan, Arus Bocor, Energi ( Tegangan, Arus, Waktu) yang diperlukan untuk terjadi degradasi permukaan.

 

Share on Facebook

Posted in Berita.


Strategi Atasi Krisis Energi Listrik

1. Kondisi beban dan ketersediaan kelistrikan saat ini.

2.Upaya membangun sistem pembangkit baru

3. Upaya penghematan yg harus dilakukan

4. Alternatif solusi mengatasi krisis energi listrik. Memanfaatkan PLTA-PLTA yg tersebar di seluruh pelosok nusantara.

 

Share on Facebook

Posted in Berita.


Kumpulan Tulisanku di Wacana Lokal

Sebagai seorang dosen bagi mahasiswanya, dan sebagai orang tua bagi anak-anaknya, hobi menulis dengan niat berbagi, semoga ada manfaatnya, seneng rasanya ketika menulis lalu tulisannya bisa dibaca banyak khalayak umum.

Sejauh mana manfaatnya, saya belum tahu. Tentu saja yang merasakan manfaat dan tidaknya adalah orang lain. Namun saya ingat saat diskusi dengan teman saya, Gunawan ST MT yang juga dosen di Teknik Elektro UNISSULA, bahwa mengajar itu tidak harus terbatas di ruang kelas, bisa juga melalui media, maka semangat dan hobi menulis yang sudah lama digelutinya, coba dituangkan dalam tulisan.

Beberapa tulisan yang pernah dimuat di Harian Suara Merdeka adalah :

1. Petir di Sekitar Menara BTS, 31 Januari 2011

2. Kota Metropolitan Nirkabel, 22 Maret 2013

3. Cerdas Mencegah Korsleting, 25 September 2013

4. Bupati ”Sing Bisa Nguripi” 26 Oktober 2013

5. Paket Wisata Geotermal, 11 Juni 2014.

 

Lalu ada beberapa berita yang pernah dimuat di Harian Suara Merdeka antara lain :

1. Bikin Sampo dari Batang Pisang, Lolos Pimnas, Harian Semarang dan Suara Merdeka

2. Tim PKM Undip siap berlaga di PIMNAS

3. Undip Peringkat 8 Nasional

 

Share on Facebook

Posted in Berita, Makalah, Opini.


PIMNAS 27 : Undip Satu satunya Peringkat 10 Besar dari Jawa Tengah

Tahun 2014 ini, Undip memberangkatkan 13 tim PKM ke ajang PIMNAS 27. Mereka terdiri dari 7 PKMKC, 2 PKMM, 2 PKMK, 1 PKMP dan 1 PKMT. Sebaran fakultas masing-masing ketua tim PKM adalah Fakultas Teknik, Fakultas Sains dan Matematik, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, serta Fakultas Psikologi.

Setelah berlaga di ajang PIMNAS 2014 yang diselenggarakan di kampus Undip Tembalang sejak 25 hingga 28 Agustus 2014, akhirnya kontingen PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) Undip berhasil menempati urutan 8 nasional .

“Undip menempati urutan pertama PTN/PTS di Jawa Tengah, setelah berhasil mengumpulkan 3 medali emas dan 1 medali perunggu dalam PIMNAS 27 yang baru saja selesai” ujar Abdul Syakur, Staf Ahli Pembantu Rektor III Universitas Diponegoro sekaligus ketua kontingen PKM Undip, ketika diterima oleh Rektor di dampingi Pembantu Rektor III, di ruang sidang rektor kampus Undip Tembalang.

Semua medali diperoleh dari kelas poster dengan rincian 3 medali emas dari PKMKC, PKMM dan PKMT. Sementara 1 perunggu dihasilkan dari PKMKC.

Medali emas disumbangkan oleh tim PKM :

1. PKMKC, Ketua : Hafidz Aly Hidayat mahasiswa Fakultas Teknik dengan dosen pembimbing Sumardi, ST. MT.

Judul : Purwarupa Unmanned Aerial Vehicle (UAV) sebagai alat bantu tim penyelamat dalam pencarian korban hilang di hutan

2. PKMM, Ketua : Umi Ardiningsih mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat dengan dosen pembimbing dr Raden Djoko Nugroho, M. Kes

Judul : Produksi HANDSANG ( Hand Sanitizer berbahan utama Pelepah Pisang) sebagai Program Percontohan Usaha Mikro Kecil Menengah di Kelurahan Rowosari Kecamatan Tembalang Kota Semarang

3. PKMT, Ketua : Rifki Firdaus mahasiswa Fakultas Teknik dengan dosen pembimbing Norman Iskandar, ST. MT.

Judul : Alat Pengering Kolektor Surya tanpa Listrik (APKOSTRIK) untuk Optimalisasi UMKM Kerupuk di Desa Brabo Kec. Tanggungharjo Kab. Grobogan.

Medali perunggu diperoleh dari PKMKC Ketua : Beta Estri Adiana mahasiswi Fakultas Teknik, dengan dosen pembimbing Rinta Krida L, S.Kom., MT.

Judul : National Integrated Medical Record (NIMER) Berbasis Cloud Computing, Solusi Pengelolaan Rekam Medis yang Terintegrasi dan Berskala Nasional dengan Memanfaatkan e-KTP.

Hasil PIMNAS 2014 ini belum mencapai target yang dicita-citakan, sehingga perlu kerja keras lagi agar prestasi mahasiswa dalam mengikuti PIMNAS tahun berikutnya semakin meningkat.

Arief Sony W dan Arlien Siswanti mewakili ketua-ketua PKM yang lolos PIMNAS dalam kesempatan tersebut menyampaikan perlu adanya peningkatan kerja sama seluruh civitas akademika undip dengan melibatkan alumni PIMNAS untuk diberikan peran yang lebih luas dan persiapan lebih awal sehingga hasil yang diharapkan bisa maksimal.

Sementara itu Pembantu Rektor III Drs Warsito SU dalam kesempatan evaluasi tersebut menghimbau agar para mahasiswa dalam membuat proposal PKM nantinya, jangan asal-asalan karena hanya memenuhi syarat beasiswa, atau hanya mengejar sampai didanai Dikti, namun harus bercita-cita sampai juara dalam PIMNAS. Perlunya peran dosen pendamping dalam membimbing mahasiswa secara intensif sehingga kegiatan PKM bisa dilaksanakan sesuai dengan tujuan masing-masing PKM.

Dalam acara penerimaan kembali kontingen Undip yang telah mengikuti ajang PIMNAS 27, Rektor Undip Prof. Sudharto P. Hadi MES, Ph.D bangga atas prestasi yang diraihnya. “Berusaha sungguh-sungguh disertai dengan doa, jika itu sudah dilakukan, apapun hasilnya tidak perlu disesali” nasehat Prof. Soedarto memberikan semangat kepada para mahasiswa, serta berjanji akan menyampaikan prestasi-prestasi mahasiswa yang telah diraih tersebut kepada Rektor Undip terpilih nanti, agar kegiatan PKM mahasiswa Undip semakin meningkat prestasinya.

Rektor juga bersyukur karena pelaksanaan PIMNAS secara umum telah terlaksana dengan lancar dan sukses, dan Undip sebagai peserta PIMNAS berhasil masuk dalam peringkat 10 besar nasional. Selamat atas prestasi yang telah diraih, sampai jumpa di PIMNAS tahun 2015 dengan prestasi yang lebih baik lagi, sembari menutup acara penyambutan kontingen Undip. Ir/As.

Sumber berita website Undip

 

Share on Facebook

Posted in Berita, Kemahasiswaan.


Paket Wisata Geotermal

Artikel ini telah diterbitkan di Kolom Wacana Lokal, SUARA MERDEKA, 11 Juni 2014.

Untuk memenuhi kebutuhan energi listrik yang tiap tahun terus meningkat, pemerintah mencanangkan program pembangunan 10.000 MW, dengan membangun pusat-pusat pembangkit energi listrik, seperti PLTU Tanjung Jati, PLTU Cilacap dan PLTU Batang. Namun pembangkit tersebut masih menggunakan bahan bakar yang tidak dapat diperbarui ( Suara Merdeka, 11 Juni 2014).

Guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar yang tidak dapat diperbarui, kebijakan umum ketenagalistrikan di Jawa Tengah, mendorong pencarian potensi dan cadangan energi baru dan terbarukan (EBT). Selain itu, penganekaragaman pemanfaatan EBT untuk sumber energi. Sumber energi terbarukan yang bisa dimanfaatkan, yaitu panas bumi (geotermal), panas matahari (solar cell), tenaga angin, dan aliran air sungai.

Salah satu sumber energi baru dan terbarukan yang jadi primadona Jateng adalah geotermal. Terdapat 14 lokasi panas bumi di 5 kawasan gunung, yaitu Gunung Slamet (Guci, Baturraden), Gunung Ungaran (Diwak, Kaliulo, Nglimut, Gedongsongo), Gunung Lawu (Bayanan, Pablengan, Cumpleng), Gunung Dieng (Wanayasa, Kawah Candradimuka, Sikidang), dan Gunung Telomoyo (Candi Umbul, Candi Dukuh).
Saat ini lokasi geotermal yang telah dimanfaatkanyaitu pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di kawasan Dieng. Adapun lokasi geotermal lain, yang akan segera dieksplorasi berada di kawasan objek wisata Guci Bumijawa Kabupaten Tegal.

Membaca berita berjudul ”Eksplorasi Panas Bumi di Guci Segera Dilakukan” (SM, 28/4/14), menggugah rasa bangga penulis sekaligus rasa khawatir. Bangga karena Jateng  ternyata memiliki potensi energi baru dan terbarukan yang melimpah. Berdasarkan hasil survei lanjutan, diperoleh informasi bahwa kapasitas pembangkit geotermal Guci, 1 unit mencapai 200 MW, padahal semula diperkirakan hanya 55 MW. Suntikan daya 200 MW terhadap sistem kelistrikan Jawa Bali ini tentu akan memperbaiki profil tegangan dan daya di Jawa Tengah khususnya.
Investor PT Spring Energy Sentosa akan melakukan eksplorasi untuk mencari titik panas bumi  sekitar Juli 2014. Di tengah rencana eksplorasi, muncul kerisauan penulis terhadap lingkungan konservasi sebagai penyangga sumber air di kawasan Gunung Slamet. Termasuk kekhawatiran menurunnya ketersediaan air panas bagi objek wisata Guci. Selama ini, kawasan hutan konservasi di Gunung Slamet menjadi penyangga utama sumber air yang mengalir melalui sungai Gung (Kali Gung) dan digunakan mengairi sawah dari wilayah selatan hingga utara.

Paket Wisata

Objek wisata air panas Guci saat ini memberikan PAD Rp 2 miliar lebih per tahun (SM, 22/10/13). Dengan perbaikan manajemen wisata, salah satunya menggunakan alat hitung otomatis pengunjung (automatic visitor counter-AutoVisCo), perolehan PAD sektor wisata ini bisa Rp 3 miliar lebih per tahun.

wisata-guci1Sumber : http://hendraxsap.files.wordpress.com/2012/12/wisata-guci.jpg

Potensi wisata ini sepenuhnya bertumpu pada sumber air panas yang mengandung sulfur, di samping panorama alam pegunungan yang indah. Penulis khawatir, pada saat eksplorasi ini dilaksanakan, akan merusak lingkungan yang berakibat menurunnya kemampuan hutan untuk menyerap air.

Kerusakan lingkungan alam bisa saja terjadi karena proses pencarian titik panas bumi kurang akurat, sehingga harus berpindah-pindah dari satu titik ke titik lainnya, yang mengakibatkan kerusakan hutan konservasi sebagai penyangga sumber air. Jangan sampai kehadiran PLTP geotermal itu menurunkan debit air panas Guci, objek wisatayang selama ini telah menjadi primadona Kabupaten Tegal.

Alam LestariSumber : http://infotegal.com/wp-content/uploads/2013/01/1.jpg

Harapannya, justru dengan adanya pembangkit listrik panas bumi di Guci, kawasan hutan konservasi dapat lebih terjaga, bahkan menambah daya tarik wisata sehingga pengelolaannya menjadi satu paket dengan wisata air panas Guci. Jika demikian, tentu keberadaan pembangkit listrik geotermal sangat bermanfaat dan perlu segera direalisasikan karena bisa melengkapi paket wisata Guci: air panas dan panorama alam pegunungan yang indah. (10)

— Abdul Syakur ST MT, warga Kabupaten Tegal, dosen Jurusan Elektro Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Share on Facebook

Posted in Berita, Opini.



Improve the web with Nofollow Reciprocity.