Skip to content


Pengenalan PKM bagi Mahasiswa PWK Undip

Untuk mengenalkan Program Kreativitas Mahasiswa bagi Mahasiswa Baru 2014 Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Undip, telah diselenggarakan Acara PKM Got Talent : PKM Karya Terbaikku, 2014 oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Planologi (HMTP) pada hari Minggu, 12 Oktober 2014 di Aula Gedung Kuliah PWK.

Abdul Syakur, ST. MT. sebagai pembicara pertama, menyampaikan materi mengenai PKM 5 Bidang dan PKM KT (Karya Tulis). PKM 5 Bidang meliputi PKM Penelitian (PKMP), PKM Kewirausahaan (PKMK), PKM pengabdian Masyarakat (PKMM), PKM Teknologi (PKMT) dan PKM Karsa Cipta (PKMKC). Sedangkan PKMKT yaitu PKM Karya Tulis terdiri dari dua jenis PKM yaitu PKM Gagasan Tertulis (PKM GT) dan PKM Artikel Ilmiah (PKM AI). Dari sekian jenis PKM ini, semuanya bermuara pada kegiatan PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional), kecuali PKM AI bermuara menjadi artikel yang diterbitkan dalam bentuk e-Journal.

“Pembuatan proposal PKM 5 harus mengacu pada Buku Panduan PKM tahun 2014 yang diterbitkan oleh Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Kemdikbud. Panduan PKM ini akan selalu diupdate setiap tahunnya, sehingga para Mahasiswa harus benar-benar teliti dalam membuat proposal PKM. Kesalahan format dan tata tulis menyebabkan proposal tidak akan direview” tutur Abdul Syakur menjelaskannya.

Got Talent 2 PWK

Got Talent 1 PWK

 

Para peserta pelatihan antusias mengikuti kegiatan pelatihan ini, untuk bekal dalam membuat proposal PKM tahun depan, yaitu tahun 2015. Hal ini mengingat, proposal PKM tahun 2014 sudah selesai diunggah dan pendaftaran sudah ditutup. Peserta diberikan tips dan saran agar dalam mencari gagasan yang akan dibuat menjadi judul PKM supaya disiapkan jauh-jauh hari. Gagasan bisa bersumber dari hasil pengamatan terhadap lingkungan sekitar, atau membaca laporan tugas akhir, membaca berita di koran atau harian, juga bisa berasal dari media TV. Kemampuan menganalisis setiap kondisi yang terjadi di sekitar lingkungan, memudahkan seorang mahasiswa untuk membuat proposal PKM.

Tips, trik dan strategi untuk memperoleh judul-judul PKM yang bermutu, akan dituliskan dalam buku Menggali Gagasan untuk Membuat Proposal PKM. Selamat belajar, berinovasi dan berkreativitas. Semoga setelah mengikuti kegiatan PKM Got Talent 2014 ini, proposal PKM yang dihasilkan oleh mahasiwa semakin meningkat kuantitas dan kualitasnya.

Share on Facebook

Posted in Berita.


Mengapa saya puasa sunah arofah hari ini

Hari Jumat, 3 Oktober 2014, bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah waktu Makkah, suadara muslim yang sedang melaksanakan ibadah haji akan melaksanakan wukuf di Arofah. Inilah puncak ibadah haji, yaitu melaksanakan wukuf di padang arofah. Nabi bersabda : Haji adalah Arofah. Artinya mereka yang melaksanakan ibadah haji, jika tidak melaksanakan wukuf di padang Arofah, maka tidaklah disebut mereka telah berhaji.

Bagi umat muslim yang tidak sedang melaksanakan wukuf di padang Arofah, disunahkan untuk melaksanakan puasa sunah. Ketika di Arofah hari ini waktu siang, saudara muslim yang berada di sekitar wilayah Arofah juga merasakan siang yang sama, sehingga mereka bisa melaksanakan puasa sunah.

Namun bagi saudara saya yang berada di belahan bumi yang lain, pada saat yang sama sedang memasuki waktu malam. Hingga terasalah kesedihan mereka tidak bisa melaksanakan puasa sunah arofah, karena di negeri mereka pada saat yang sama sedang waktu malam.

Lalu kapan mereka yang berada di belahan bumi yang lain, seharusnya berpuasa sunah arofah ? Jika menunggu pagi tiba, tentu di arofah sudah selesai pelaksanaan wukufnya. Berarti saudara yang berada di belahan bumi yang lain tidak mendapatkan kemuliaan ibadah puasa sunah bersamaan dengan pelaksanaan wukuf di arofah.

Kalau demikian, puasa sunah arofah hanya bagi mereka umat muslim yang berdekatan dengan padang Arofah, sehingga waktu pelaksanaan puasa arofah bersamaan dengan wukufnya ibadah haji di Arofah. Ini tentu tidak adil bagi umat Muslim yang sudah tersebar ke seluruh dunia.

Lalu bagaimana semestinya umat muslim lain berpuasa arofah ? Bolehkan puasa sunah arofah dilaksanakan, sementara wukuf di arofah sudah selesai dilaksanakan ? Inilah yang menjadi pertanyaan mendasar saya, mengapa lalu saya memutuskan untuk puasa sunah arofah hari ini, Sabtu 4 Oktober 2014 bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah, di negara Indonesia.

Ini adalah tanya jawab seputar puasa sunah Arofah yang saya copy dari Faceeboo bapak Prakosa Rachwibowo :

Puasa Arafah Berbeda dengan Hari Arafah ?

Jika terjadi perbedaan dalam menentukan tanggal 9 Dzulhijjah, antara pemerintah Indonesia dengan Saudi, mana yang harus diikuti? Kami bingung dalam menentukan kapan puasa arafah?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du

Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini,

Pertama, puasa arafah mengikuti wuquf di arafah.

Ini merupakan pendapat Lajnah Daimah (Komite Fatwa dan Penelitian Ilmiyah) Arab Saudi. Mereka berdalil dengan pengertian hari arafah, bahwa hari arafah adalah hari dimana para jamaah haji wukuf di Arafah. Tanpa memandang tanggal berapa posisi hari ini berada.

Dalam salah satu fatwanya tentang perbedaan tanggal antara tanggal 9 Dzulhijjah di luar negeri dengan hari wukuf di arafah di Saudi, Lajnah Daimah menjelaskan,

يوم عرفة هو اليوم الذي يقف الناس فيه بعرفة، وصومه مشروع لغير من تلبس بالحج، فإذا أردت أن تصوم فإنك تصوم هذا اليوم، وإن صمت يوماً قبله فلا بأس
Hari arafah adalah hari dimana kaum muslimin melakukan wukuf di Arafah. Puasa arafah dianjurkan, bagi orang yang tidak melakukan haji. Karena itu, jika anda ingin puasa arafah, maka anda bisa melakukan puasa di hari itu (hari wukuf). Dan jika anda puasa sehari sebelumnya, tidak masalah. (Fatawa Lajnah Daimah, no. 4052)

Kedua, puasa arafah sesuai tanggal 9 Dzulhijjah di daerah setempat

Karena penentuan ibadah yang terkait dengan waktu, ditentukan berdasarkan waktu dimana orang itu berada. Dan hari arafah adalah hari yang bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah. Sehingga penentuannya kembali kepada penentuan kalender di mana kaum muslimin berada.

Pendapat ini ditegaskan oleh Imam Ibnu Utsaimin. Beliau pernah ditanya tentang perbedaan dalam menentukan hari arafah. Kita simak keterangan beliau,

والصواب أنه يختلف باختلاف المطالع ، فمثلا إذا كان الهلال قد رؤي بمكة ، وكان هذا اليوم هو اليوم التاسع ، ورؤي في بلد آخر قبل مكة بيوم وكان يوم عرفة عندهم اليوم العاشر فإنه لا يجوز لهم أن يصوموا هذا اليوم لأنه يوم عيد ، وكذلك لو قدر أنه تأخرت الرؤية عن مكة وكان اليوم التاسع في مكة هو الثامن عندهم ، فإنهم يصومون يوم التاسع عندهم الموافق ليوم العاشر في مكة ، هذا هو القول الراجح ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم يقول ( إذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا )
Yang benar, semacam ini berbeda-beda, sesuai perbedaan mathla’ (tempat terbit hilal). Sebagai contoh, kemarin hilal sudah terlihat di Mekah, dan hari ini adalah tanggal 9 Dzulhijjah. Sementara di negeri lain, hilal terlihat sehari sebelum Mekah, sehingga hari wukuf arafah menurut warga negara lain, jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah, maka pada saat itu, tidak boleh bagi mereka untuk melakukan puasa. Karena hari itu adalah hari raya bagi mereka.

Demikian pula sebaliknya, ketika di Mekah hilal terlihat lebih awal dari pada negara lain, sehingga tanggal 9 di Mekah, posisinya tanggal 8 di negara tersebut, maka penduduk negara itu melakukan puasa tanggal 9 menurut kalender setempat, yang bertepatan dengan tanggal 10 di Mekah. Inilah pendapat yang kuat. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا
Apabila kalian melihat hilal, lakukanlah puasa dan apabila melihat hilal lagi, (hari raya), jangan puasa. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, volume 20, hlm. 28)

Dari keterangan di atas, kita bisa memahami bahwa perbedaan penentuan hari arafah, kembali kepada dua pertimbangan:

Pertama, apakah perbedaan tempat terbit hilal (Ikhtilaf Mathali’) mempengaruhi perbedaan dalam penentuan tanggal ataukah tidak.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa dalam menentukan tanggal awal bulan, kaum muslimin di seluruh dunia disatukan. Sehingga perbedaan tempat terbit hilal tidak mempengaruhi perbedaan tanggal.

Sementara sebagian ulama berpendapat bahwa perbedaan mathali’ mempengaruhi perbedaan penentuan awal bulan di masing-masing daerah. Ini meruakan pendapat Ikrimah, al-Qosim bin Muhammad, Salim bin Abdillah bin Umar, Imam Malik, Ishaq bin Rahuyah, dan Ibnu Abbas. (Fathul Bari, 4/123).

Dari dua pendapat ini, insyaaAllah yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat kedua. Adanya perbedaan tempat terbit hilal, mempengaruhi perbedaan penentuan tanggal. Hal ini berdasarkan riwayat dari Kuraib – mantan budak Ibnu Abbas –, bahwa Ummu Fadhl bintu al-Harits (Ibunya Ibnu Abbas) pernah menyuruhnya untuk menemui Muawiyah di Syam, dalam rangka menyelesaikan suatu urusan.

Kuraib melanjutkan kisahnya,

Setibanya di Syam, saya selesaikan urusan yang dititipkan Ummu Fadhl. Ketika itu masuk tanggal 1 ramadhan dan saya masih di Syam. Saya melihat hilal malam jumat. Kemudian saya pulang ke Madinah. Setibanya di Madinah di akhir bulan, Ibnu Abbas bertanya kepadaku

“Kapan kalian melihat hilal?” tanya Ibnu Abbas.

“kami melihatnya malam jumat.” Jawab Kuraib.

“Kamu melihatnya sendiri?” tanya Ibnu Abbas.

“Ya, saya melihatnya dan masyarakatpun melihatnya. Mereka puasa dan Muawiyahpun puasa.” Jawab Kuraib.

Ibnu Abbas menjelaskan,

لكنا رأيناه ليلة السبت، فلا نزال نصوم حتى نكمل ثلاثين أو نراه
“Kalau kami melihatnya malam sabtu. Kami terus berpuasa, hingga kami selesaikan selama 30 hari atau kami melihat hilal Syawal.”

Kuraib bertanya lagi,

“Mengapa kalian tidak mengikuti rukyah Muawiyah dan puasanya Muawiyah?”

Jawab Ibnu Abbas,

لا هكذا أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Tidak, seperti ini yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kami.” (HR. Muslim 2580, Nasai 2111, Abu Daud 2334, Turmudzi 697, dan yang lainnya).

Kedua, batasan hari arafah

Sebagian ulama menyebutkan bahwa puasa arafah adalah puasa pada hari di mana jamaah haji melakukan wukuf di arafah. Tanpa mempertimbangkan perbedaan tanggal dan waktu terbitnya hilal.

Sementara ulama lain berpendapat bahwa hari arafah adalah hari yang bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah. Sehingga sangat memungkinkan masing-masing daerah berbeda.

Ada satu pertimbangan sehingga kita bisa memilih pendapat yang benar dari dua keterangan di atas. Terlepas dari kajian ikhtilaf mathali’ (perbedaan tempat terbit hilal) di atas.

Kita sepakat bahwa islam adalah agama bagi seluruh alam. Tidak dibatasi waktu dan zaman, sebelum tiba saatnya Allah mencabut islam. Dan seperti yang kita baca dalam sejarah, di akhir dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, islam sudah tersebar ke berbagai penjuru wilayah, yang jarak jangkaunya cukup jauh. Mekah dan Madinah kala itu ditempuh kurang lebih sepekan. Kemudian di zaman para sahabat, islam telah melebar hingga dataran syam dan Iraq. Dengan alat transportasi masa silam, perjalanan dari Mekah menuju ujung wilayah kaum muslimin, bisa menghabiskan waktu lebih dari sebulan.

Karena itu, di masa silam, untuk mengantarkan sebuah info dari Mekah ke Syam atau Mekah ke Kufah, harus menempuh waktu yang sangat panjang. Berbeda dengan sekarang, anda bisa menginformasikan semua kejadian yang ada di tanah suci ke Indonesia, hanya kurang dari 1 detik. Sehingga orang yang berada di tempat sangat jauh sekalipun, bisa mengetahui kapan kegiatan wukuf di arafah, dalam waktu sangat-sangat singkat.

Di sini kita bisa menyimpulkan, jika di masa silam standar hari arafah itu mengikuti kegiatan jamaah haji yang wukuf di arafah, tentu kaum muslimin yang berada di tempat yang jauh dari Mekah, tidak mungkin bisa menerima info tersebut di hari yang sama, atau bahkan harus menunggu beberapa hari.

Jika ini diterapkan, tentu tidak akan ada kaum muslimin yang bisa melaksanakan puasa arafah dalam keadaan yakin telah sesuai dengan hari wukuf di padang arafah. Karena mereka yang jauh dari Mekah sama sekali buta dengan kondisi di Mekah.

Ini berbeda dengan masa sekarang. Hari arafah sama dengan hari wukuf di arafah, bisa dengnan mudah diterapkan. Hanya saja, di sini kita berbicara dengan standar masa silam dan bukan masa sekarang. Karena tidak boleh kita mengatakan, ada satu ajaran agama yang hanya bisa diamalkan secara sempurna di zaman teknologi, sementara itu tidak mungkin dipraktekkan di masa silam.

Oleh karena itu, memahami pertimbangan di atas, satu-satunya yang bisa kita jadikan acuan adalah penanggalan. Hari arafah adalah hari yang bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah, dan bukan hari jamaah haji wukuf di Arafah. Dengan prinsip ini, kita bisa memahammi bahwa syariat puasa arafah bisa dipraktekkan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia tanpa mengenal batas waktu dan tempat.

Allahu a’lam.
Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

 

 

 

Share on Facebook

Posted in Opini.


Dua Senja yang Menginspirasi

Selasa, 30 September 2014, sore itu menjelang senja, saya bergegas untuk sholat mahrib. Usai sholat, bertemu dengan Bapak Sarjiya.

Rabu, 1 Oktober 2014, sore saat hendak pulang dari Perpus FT, berjumpa dengan bu Suning Kusumawardhani

Kamis, 2 Oktober 2014, ada janji dengan Promotor untuk diskusi mengenai materi yang hendak ditulis dalam disertasi saya. Point-point pentingnya adalah : Jenis Bahan Penyusun dan Komposisi Bahan, Sudut Kontak dan Intensitas UV.

Di sisi lain, parameter yang akan diamati adalah : Degradasi permukaan, Arus Bocor, Energi ( Tegangan, Arus, Waktu) yang diperlukan untuk terjadi degradasi permukaan.

 

Share on Facebook

Posted in Berita.


Strategi Atasi Krisis Energi Listrik

1. Kondisi beban dan ketersediaan kelistrikan saat ini.

2.Upaya membangun sistem pembangkit baru

3. Upaya penghematan yg harus dilakukan

4. Alternatif solusi mengatasi krisis energi listrik. Memanfaatkan PLTA-PLTA yg tersebar di seluruh pelosok nusantara.

 

Share on Facebook

Posted in Berita.


Kumpulan Tulisanku di Wacana Lokal

Sebagai seorang dosen bagi mahasiswanya, dan sebagai orang tua bagi anak-anaknya, hobi menulis dengan niat berbagi, semoga ada manfaatnya, seneng rasanya ketika menulis lalu tulisannya bisa dibaca banyak khalayak umum.

Sejauh mana manfaatnya, saya belum tahu. Tentu saja yang merasakan manfaat dan tidaknya adalah orang lain. Namun saya ingat saat diskusi dengan teman saya, Gunawan ST MT yang juga dosen di Teknik Elektro UNISSULA, bahwa mengajar itu tidak harus terbatas di ruang kelas, bisa juga melalui media, maka semangat dan hobi menulis yang sudah lama digelutinya, coba dituangkan dalam tulisan.

Beberapa tulisan yang pernah dimuat di Harian Suara Merdeka adalah :

1. Petir di Sekitar Menara BTS, 31 Januari 2011

2. Kota Metropolitan Nirkabel, 22 Maret 2013

3. Cerdas Mencegah Korsleting, 25 September 2013

4. Bupati ”Sing Bisa Nguripi” 26 Oktober 2013

5. Paket Wisata Geotermal, 11 Juni 2014.

 

Lalu ada beberapa berita yang pernah dimuat di Harian Suara Merdeka antara lain :

1. Bikin Sampo dari Batang Pisang, Lolos Pimnas, Harian Semarang dan Suara Merdeka

2. Tim PKM Undip siap berlaga di PIMNAS

3. Undip Peringkat 8 Nasional

 

Share on Facebook

Posted in Berita, Makalah, Opini.


PIMNAS 27 : Undip Satu satunya Peringkat 10 Besar dari Jawa Tengah

Tahun 2014 ini, Undip memberangkatkan 13 tim PKM ke ajang PIMNAS 27. Mereka terdiri dari 7 PKMKC, 2 PKMM, 2 PKMK, 1 PKMP dan 1 PKMT. Sebaran fakultas masing-masing ketua tim PKM adalah Fakultas Teknik, Fakultas Sains dan Matematik, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, serta Fakultas Psikologi.

Setelah berlaga di ajang PIMNAS 2014 yang diselenggarakan di kampus Undip Tembalang sejak 25 hingga 28 Agustus 2014, akhirnya kontingen PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) Undip berhasil menempati urutan 8 nasional .

“Undip menempati urutan pertama PTN/PTS di Jawa Tengah, setelah berhasil mengumpulkan 3 medali emas dan 1 medali perunggu dalam PIMNAS 27 yang baru saja selesai” ujar Abdul Syakur, Staf Ahli Pembantu Rektor III Universitas Diponegoro sekaligus ketua kontingen PKM Undip, ketika diterima oleh Rektor di dampingi Pembantu Rektor III, di ruang sidang rektor kampus Undip Tembalang.

Semua medali diperoleh dari kelas poster dengan rincian 3 medali emas dari PKMKC, PKMM dan PKMT. Sementara 1 perunggu dihasilkan dari PKMKC.

Medali emas disumbangkan oleh tim PKM :

1. PKMKC, Ketua : Hafidz Aly Hidayat mahasiswa Fakultas Teknik dengan dosen pembimbing Sumardi, ST. MT.

Judul : Purwarupa Unmanned Aerial Vehicle (UAV) sebagai alat bantu tim penyelamat dalam pencarian korban hilang di hutan

2. PKMM, Ketua : Umi Ardiningsih mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat dengan dosen pembimbing dr Raden Djoko Nugroho, M. Kes

Judul : Produksi HANDSANG ( Hand Sanitizer berbahan utama Pelepah Pisang) sebagai Program Percontohan Usaha Mikro Kecil Menengah di Kelurahan Rowosari Kecamatan Tembalang Kota Semarang

3. PKMT, Ketua : Rifki Firdaus mahasiswa Fakultas Teknik dengan dosen pembimbing Norman Iskandar, ST. MT.

Judul : Alat Pengering Kolektor Surya tanpa Listrik (APKOSTRIK) untuk Optimalisasi UMKM Kerupuk di Desa Brabo Kec. Tanggungharjo Kab. Grobogan.

Medali perunggu diperoleh dari PKMKC Ketua : Beta Estri Adiana mahasiswi Fakultas Teknik, dengan dosen pembimbing Rinta Krida L, S.Kom., MT.

Judul : National Integrated Medical Record (NIMER) Berbasis Cloud Computing, Solusi Pengelolaan Rekam Medis yang Terintegrasi dan Berskala Nasional dengan Memanfaatkan e-KTP.

Hasil PIMNAS 2014 ini belum mencapai target yang dicita-citakan, sehingga perlu kerja keras lagi agar prestasi mahasiswa dalam mengikuti PIMNAS tahun berikutnya semakin meningkat.

Arief Sony W dan Arlien Siswanti mewakili ketua-ketua PKM yang lolos PIMNAS dalam kesempatan tersebut menyampaikan perlu adanya peningkatan kerja sama seluruh civitas akademika undip dengan melibatkan alumni PIMNAS untuk diberikan peran yang lebih luas dan persiapan lebih awal sehingga hasil yang diharapkan bisa maksimal.

Sementara itu Pembantu Rektor III Drs Warsito SU dalam kesempatan evaluasi tersebut menghimbau agar para mahasiswa dalam membuat proposal PKM nantinya, jangan asal-asalan karena hanya memenuhi syarat beasiswa, atau hanya mengejar sampai didanai Dikti, namun harus bercita-cita sampai juara dalam PIMNAS. Perlunya peran dosen pendamping dalam membimbing mahasiswa secara intensif sehingga kegiatan PKM bisa dilaksanakan sesuai dengan tujuan masing-masing PKM.

Dalam acara penerimaan kembali kontingen Undip yang telah mengikuti ajang PIMNAS 27, Rektor Undip Prof. Sudharto P. Hadi MES, Ph.D bangga atas prestasi yang diraihnya. “Berusaha sungguh-sungguh disertai dengan doa, jika itu sudah dilakukan, apapun hasilnya tidak perlu disesali” nasehat Prof. Soedarto memberikan semangat kepada para mahasiswa, serta berjanji akan menyampaikan prestasi-prestasi mahasiswa yang telah diraih tersebut kepada Rektor Undip terpilih nanti, agar kegiatan PKM mahasiswa Undip semakin meningkat prestasinya.

Rektor juga bersyukur karena pelaksanaan PIMNAS secara umum telah terlaksana dengan lancar dan sukses, dan Undip sebagai peserta PIMNAS berhasil masuk dalam peringkat 10 besar nasional. Selamat atas prestasi yang telah diraih, sampai jumpa di PIMNAS tahun 2015 dengan prestasi yang lebih baik lagi, sembari menutup acara penyambutan kontingen Undip. Ir/As.

Sumber berita website Undip

 

Share on Facebook

Posted in Berita, Kemahasiswaan.


Paket Wisata Geotermal

Artikel ini telah diterbitkan di Kolom Wacana Lokal, SUARA MERDEKA, 11 Juni 2014.

Untuk memenuhi kebutuhan energi listrik yang tiap tahun terus meningkat, pemerintah mencanangkan program pembangunan 10.000 MW, dengan membangun pusat-pusat pembangkit energi listrik, seperti PLTU Tanjung Jati, PLTU Cilacap dan PLTU Batang. Namun pembangkit tersebut masih menggunakan bahan bakar yang tidak dapat diperbarui ( Suara Merdeka, 11 Juni 2014).

Guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar yang tidak dapat diperbarui, kebijakan umum ketenagalistrikan di Jawa Tengah, mendorong pencarian potensi dan cadangan energi baru dan terbarukan (EBT). Selain itu, penganekaragaman pemanfaatan EBT untuk sumber energi. Sumber energi terbarukan yang bisa dimanfaatkan, yaitu panas bumi (geotermal), panas matahari (solar cell), tenaga angin, dan aliran air sungai.

Salah satu sumber energi baru dan terbarukan yang jadi primadona Jateng adalah geotermal. Terdapat 14 lokasi panas bumi di 5 kawasan gunung, yaitu Gunung Slamet (Guci, Baturraden), Gunung Ungaran (Diwak, Kaliulo, Nglimut, Gedongsongo), Gunung Lawu (Bayanan, Pablengan, Cumpleng), Gunung Dieng (Wanayasa, Kawah Candradimuka, Sikidang), dan Gunung Telomoyo (Candi Umbul, Candi Dukuh).
Saat ini lokasi geotermal yang telah dimanfaatkanyaitu pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di kawasan Dieng. Adapun lokasi geotermal lain, yang akan segera dieksplorasi berada di kawasan objek wisata Guci Bumijawa Kabupaten Tegal.

Membaca berita berjudul ”Eksplorasi Panas Bumi di Guci Segera Dilakukan” (SM, 28/4/14), menggugah rasa bangga penulis sekaligus rasa khawatir. Bangga karena Jateng  ternyata memiliki potensi energi baru dan terbarukan yang melimpah. Berdasarkan hasil survei lanjutan, diperoleh informasi bahwa kapasitas pembangkit geotermal Guci, 1 unit mencapai 200 MW, padahal semula diperkirakan hanya 55 MW. Suntikan daya 200 MW terhadap sistem kelistrikan Jawa Bali ini tentu akan memperbaiki profil tegangan dan daya di Jawa Tengah khususnya.
Investor PT Spring Energy Sentosa akan melakukan eksplorasi untuk mencari titik panas bumi  sekitar Juli 2014. Di tengah rencana eksplorasi, muncul kerisauan penulis terhadap lingkungan konservasi sebagai penyangga sumber air di kawasan Gunung Slamet. Termasuk kekhawatiran menurunnya ketersediaan air panas bagi objek wisata Guci. Selama ini, kawasan hutan konservasi di Gunung Slamet menjadi penyangga utama sumber air yang mengalir melalui sungai Gung (Kali Gung) dan digunakan mengairi sawah dari wilayah selatan hingga utara.

Paket Wisata

Objek wisata air panas Guci saat ini memberikan PAD Rp 2 miliar lebih per tahun (SM, 22/10/13). Dengan perbaikan manajemen wisata, salah satunya menggunakan alat hitung otomatis pengunjung (automatic visitor counter-AutoVisCo), perolehan PAD sektor wisata ini bisa Rp 3 miliar lebih per tahun.

wisata-guci1Sumber : http://hendraxsap.files.wordpress.com/2012/12/wisata-guci.jpg

Potensi wisata ini sepenuhnya bertumpu pada sumber air panas yang mengandung sulfur, di samping panorama alam pegunungan yang indah. Penulis khawatir, pada saat eksplorasi ini dilaksanakan, akan merusak lingkungan yang berakibat menurunnya kemampuan hutan untuk menyerap air.

Kerusakan lingkungan alam bisa saja terjadi karena proses pencarian titik panas bumi kurang akurat, sehingga harus berpindah-pindah dari satu titik ke titik lainnya, yang mengakibatkan kerusakan hutan konservasi sebagai penyangga sumber air. Jangan sampai kehadiran PLTP geotermal itu menurunkan debit air panas Guci, objek wisatayang selama ini telah menjadi primadona Kabupaten Tegal.

Alam LestariSumber : http://infotegal.com/wp-content/uploads/2013/01/1.jpg

Harapannya, justru dengan adanya pembangkit listrik panas bumi di Guci, kawasan hutan konservasi dapat lebih terjaga, bahkan menambah daya tarik wisata sehingga pengelolaannya menjadi satu paket dengan wisata air panas Guci. Jika demikian, tentu keberadaan pembangkit listrik geotermal sangat bermanfaat dan perlu segera direalisasikan karena bisa melengkapi paket wisata Guci: air panas dan panorama alam pegunungan yang indah. (10)

— Abdul Syakur ST MT, warga Kabupaten Tegal, dosen Jurusan Elektro Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Share on Facebook

Posted in Berita, Opini.


Seleksi Mawapres Undip 2014

Mawapres Undip 2014

Selamat kepada saudara Arliandi Pratama Arbad, Mawapres UNDIP tahun 2014 yang telah dinyatakan lolos 15 besar Finalis Mawapres tingkat Nasional tahun 2014.
Saya, Abdul Syakur, ST. MT.  sebagai juri bidang Pencapaian Prestasi dan Penghargaan, memberikan dukungan dan doa, semoga langkah selanjutnya diberikan kelancaran dan berkah dari Alloh SWT untuk menjadi contoh teladan bagi Mahasiswa Undip khususnya dan Mahasiswa Indonesia pada umumnya. Selamat berkarya lebih baik lagi untuk bangsa dan negara Indonesia.

Share on Facebook

Posted in Berita, Kemahasiswaan.


Pohon Kandri Pelenyap Petir

Pohon Kandri dengan nama latin   Bridelia Monoica banyak dijumpai di sekitar kilang minyak Pertamina Cilacap. Mengapa pohon Kandri ini banyak ditanam di sana ? Karena suatu alasan yang sangat penting bagi keselamatan kilang-kilang minyak di pertamina Cilacap, agar tidak terkena sambaran petir.

Kandri 2Informasi ini sudah ada cukup lama, melalui berita di harian Suara Merdeka. Selain menggunakan sistem proteksi eksternal sangkar Faraday, di sekitar kilang minyak di Pertamina Cilacap, juga ditanami pohon Kandri, dan hingga sampai sekarang, pohon Kandri masih dijumpai di sana.

Abdul Syakur, ST. MT. dosen teknik elektro Universitas Diponegoro sangat tertarik dengan adanya fenomena ini, dan ingin melihat secara langsung seperti apakah pohon Kandri ini. Seorang alumnus teknik elektro Undip bapak Sardjana yang bekerja di PT. Phapros Semarang, memberitahukan kalau pohon Kandri ini juga ditanam di komplek PT Phapros dengan harapan dan tujuan yang sama, yaitu untuk menghilangkan efek sambaran petir di sekitar wilayah itu. (Foto 1. Batang Pohon Kandri dan nama latinnya). Diketahui, sampai dengan tahun terakhir ini, lokasi-lokasi di sekitar Simongan ini intensitas petir cukup tinggi dan mengganggu peralatan yang ada di perusahaan. Padahal pihak perusahaan juga sudah memasang proteksi petir ekstenal jenis proteksi aktif, namun masih terjadi gangguan yang disebabkan oleh karena adanya sambaran petir. Lalu ada seorang kawan, menyarankan agar ditanami pohon Kandri di sekitar lokasi yang sering terkena sambaran petir. Ada beberapa pohon Kandri ditanam di lokasi yang cukup rawan terhadap bahaya sambaran petir.Kandri 3

(Foto 2. Abdul Syakur bersama mahasiswa di depan pohon Kandri).

Hal yang menarik dan selalu menimbulkan pertanyaan bagi Abdul Syakur adalah mengapa pohon kandri ini bisa menghilangkan / melenyapkan sambaran petir ? Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab antara lain :

1. Sebelum ditanami pohon Kandri banyak sambaran petir, setelah ditanami pohon Kandri, tidak ada lagi sambaran petir. Benarkah demikian ?

2. Sebelum ditanai pohon Kandri banyak sambaran petir dan merusak peralatan listrik dan elektronik, setelah ditanami pohon Kandri masih banyak sambaran petir, tapi tidak ada peralatan listrik dan elektronik yang rusak. Benarkah demikian ?

Kalau pertanyaan no 1 dijawab benar, berarti pohon Kandri memiliki kemampuan untuk melenyapkan/meniadakan sambaran petir di lokasi tersebut. Lalu sifat-sifat apakah yang dimiliki oleh pohon Kandri ini, sehingga bisa menghilangkan sambaran petir ?

Kalau pertanyaan no 2 dijawab benar, berati pohon Kandri tidak melenyapkan petir, karena petir masih sering terjadi petir, namun pohon Kandri dapat melindungi peralatan listrik dan elektronik yang berada di sekitar pohon Kandri.

Untuk hal-hal inilah, Abdul Syakur beserta mahasiswa peserta kuliah Sistem Proteksi Petir, tertarik untuk meneliti sifat-sifat yang dimiliki oleh pohon Kandri, jika benar dapat melenyapkan sambaran petir. Diharapkan melalui penelitian ini, dapat menjawab fenomena lenyapnya sambaran petir di sekitar pohon Kandri secara ilmiah, bukKandri 1an lagi Konon Katanya. (Foto 3. Abdul Syakur, Sardjana, dan Mahasiswa berfose membelakangi pohon Kandri di komplek PT. Phapros Simongan Semarang)

 

 

Share on Facebook

Posted in Berita, Opini.

Tagged with , , .


Mempertanyakan Kembali Pengaruh BTS terhadap Lingkungan

Menara BTS saat ini sudah banyak berdiri di mana-mana untuk memberikan kemudahan, kelancaran dalam komunikasi. Sampai saat ini masih terdapat silang pendapat mengenai pengaruh BTS terhadap lingkungan sekitar, apakah ada pengaruh negatifnya ?

Ditinjau dari sisi positif bagi masyarakat pada umumnya, dengan adanya menara BTS maka akan memperlancar komunikasi, baik itu komunikasi lisan (menggunakan HP) maupun komunikasi melalui intrenet. Selain manfaat tersebut, masyarakat pada umumnya tidak mendapatkan keuntungan apa-apa. Keuntungan hanya diperoleh oleh perseorangan atau kelompok yang tanahnya atau lokasinya digunakan untuk mendirikan menara BTS tersebut.

Lalu apa sisi negatifnya ? Ini yang masih menjadi silang pendapat, sebenarnya BTS itu menimbulkan efek negatif terhadap lingkungannya ? Apakah ada pengaruh dari radiasi yang dipancarkan oleh antena yang ada di menara BTS, terhadap kesehatan manusia di sekitarnya ? terhadap peralatan elektronik yang ada dilingkungan sekitarnya ? Bagaimana jika menara BTS terkena angin kencang hingga roboh ? Ini adalah sebagian dari pertanyaan warga masyarakat ketika lokasi mereka akan dibangun menara BTS.

Saya coba uraikan di sini berdasarkan sumber dari : http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20130510084847AAKEgOA yang masih perlu diklarifikasi kebenarannya.

Berikut ini sejumlah dampak negatif yang bisa ditimbulkan akibat radiasi yang
berlebihan dari ponsel dan menara BTS:

1. Risiko kanker otak pada anak-anak dan remaja meningkat 400 persen akibat
penggunaan ponsel. Makin muda usia pengguna, makin besar dampak yang
ditimbulkan oleh radiasi ponsel.

2. Bukan hanya pada anak dan remaja, pada orang dewasa radiasi ponsel juga
berbahaya. Penggunaan ponsel 30 menit/hari selama 10 tahun dapat meningkatkan
risiko kanker otak dan acoustic neuroma (sejenis tumor otak yang bisa menyebabkan tuli).

3. Radiasi ponsel juga berbahaya bagi kesuburan pria. Menurut penelitian,
penggunaan ponsel yang berlebihan bisa menurunkan jumlah sperma hingga 30 persen.

4. Frekuensi radio pada ponsel bisa menyebabkan perubahan pada DNA manusia
dan membentuk radikal bebas di dalam tubuh. Radikal bebas merupakan karsinogen
atau senyawa yang dapat memicu kanker.

5. Frekuensi radio pada ponsel juga mempengaruhi kinerja alat-alat penunjang
kehidupan (live saving gadget) seperti alat pacu jantung. Akibatnya bisa
meningkatkan risiko kematian mendadak.

6. Sebuah penelitian membuktikan produksi homon stres kortisol meningkat pada
penggunaan ponsel dalam durasi yang panjang. Peningkatan kadar stres merupakan
salah satu bentuk respons penolakan tubuh terhadap hal-hal yang membahayakan
kesehatan.

7. Medan elektromagnet di sekitar menara BTS dapat menurunkan sistem kekebalan
tubuh. Akibatnya tubuh lebih sering mengalami reaksi alergi seperti ruam dan gatal-gatal.

8. Penggunaan ponsel lebih dari 30 menit/hari selama 4 tahun bisa memicu hilang
pendengaran (tuli). Radiasi ponsel yang terus menerus bisa memicu tinnitus (telinga
berdenging) dan kerusakan sel rambut.

Berdasarkan paparan yang disampaikan Bapak Bambang Purnomo dalam blognya dengan judul Pengaruh BTS terhadap Kesehatan Manusia ditulis tanggal 8 Januari 2009 menuliskan sebagai berikut :

Beberapa waktu yang lalu Temen saya bertanya kepada saya, apakah ada pengaruh Tower telekomunikasi (BTS) terhadap kesehatan masyarakat yang ada di bawah atau di sekitar BTS itu berada?, hal ini di karenakan tetangga beliau, atap rukonya akan di bangun BTS, namun warga disana menolak karena mereka berpikiran bahwa BTS itu berdampak buruk ke kesehatan manusia seperti halnya SUTET tegangan tinggi.

Dari literature yang saya baca, dan sering kali discuss dengan teman-teman yang touch kerjaanya dengan BTS ini seperti devisi NO dan orang-orang SITAC (Site Acquisition) kalau BTS itu radiasinya sangat kecil sekali mempengaruhi kesehatan tubuh manusia, dan radiasi yang ada masih jauh di bawah ambang normal, jadi sebenarnya ketika dari pihak SITAC dan vendor bisa menjelaskan ke Penduduk dimana BTS itu akan di bangun bahwa pengaruhnya tidak ada ke tubuh manusia dan kesehatan.

Kita tidak dapat menyalahkan masyarakat yang salah kaprah dalam menyikapi tower telekomunikasi, karena memang mereka tidak mengetahui dan tidak mendapatkan informasi yang benar tentang apa dan bagaimana tower serta akibat yang dapat ditimbulkan oleh tower tersebut.

Tower telekomunikasi baik untuk pemancar Gelombang Micro Digital ( GMD ) maupun untuk BTS ( Base Transceiver System) pemancar HP, Untuk GMD biasanya memancarkan gelombang elektromagnetik dengan frekuensi 4 sampai 7 Ghz , dimana antara antenna pemancar dengan antenna penerima berjarak sekitar maksimum 60 Km dan harus LOS ( Line Of Side ) tidak ada obstackle ( penghalang ) yang menghalangi antara keduanya., biasanya dengan ketinggian diatas 40 meter dari permukaan tanah.

Gelombang yang dipancarkan adalah gelombang ruang, merambat lurus diudara.
Sementara untuk BTS adalah memancarkan gelombang elektromagnetik dengan frekuensi rendah berkisar antara 900 s/d 1800 Mhz., yang dipancarkan oleh antenna sektoral yang nantinya akan ditangkap oleh antenna HP pada masing-masing pelanggan HP.Secara teknologi gelombang radio dapat dinyatakan aman untuk kesehatan manusia dan peralatan listrik di rumah tangga. Sudah lama sekali gelombang radio dipergunakan manusia untuk komunikasi mulai dari Abraham Bell menemukan Telegraph, sampai kepada teknologi cellular saat ini, yang dapat memudahkan manusia untuk berkomunikasi satu dengan lainnya.

Tower Telekomunikasi dapat dibedakan dari bentuk dan konstruksinya, mulai dari yang sederhana berbentuk segi tiga, yang ditopang dengan tali agar tidak meliuk-liuk terkena hembusan angin, ini jenisnya adalah Tower Gaymas, yang mempunyai temberang sebagai suportingnya, keamanan dari tower ini paling bawah secara konstruksi, kalau bebannya berat maka dikhawatirkan patah dan menimpa sekitarnya.Jenis yang kedua adalah SST ( Self Suporting Tower ), dimana tower ini mempunyai konstruksi baja mempunyai kaki empat buah dengan fondasi tertanam kebawah tanah dengan kedalaman tertentu, besi rangka tower ini dilapisi dengan galvanis yang tahan samapai puluhan tahun tidak berkarat, lagi pula tower ini pemeliharaannya dengan mencat dengan cat khusus, anti karat, sehingga kemungkinan tower ini roboh sangat kecil, tinggi tower berfariasi tergantung kontur bumi, kalau kontur bumi datar maka diperlukan tower yang lebih tinggi, sementara kalau didaerah perbukitan, tower dibangun diatas puncak bukit dengan ketinggian yang relative rendah.
Tower Telekomunikasi berbeda dengan tower Listrik , yang ditopangnya adalah kabel yang dialiri oleh Saluran Umum Tegangan Extra Tinggi ( SUTET ), dimana arus listrik yang dilewatkannya adalah diatas 20.000 KV, sehingga menimbulkan radiasi listrik yang cukup besar.

Sementara tower Telekomunikasi yang ditopangnya adalah antenna yang memancarkan gelombang elektromagnetik atau kita sebut dengan gelombang radio, yang radiasinya berkisar berordo watt, sehingga belum sampai ketanah sudah hilang radiasinya itu.jadi boleh dikatakan aman untuk kesehatan manusia dan peralatan elektrik umah tangga.Sinyal BTS, tidak akan mengganggu frekuensi radio dan TV karena peralatan BTS bekerja pada gelombang 900 mhz dan 1.800 mhz.
Sementara radio dan TV bekerja pada 100-600 mhz. Kekuatan tower pun tidak perlu diragukan, karena telah dirancang mampu menahan angin berkecepatan hingga 120 km/jam dan pondasi yang sangat kokoh di mana setiap cm2 mampu menahan beban hingga 225 kg.

“Berdasar penelitian WHO dan Fakultas Teknik UGM, BTS tidak terdapat radiasi yang membahayakan kesehatan manusia.level batas radiasi yang diperbolehkan menurut standar yang dikeluarkan WHO masing-masing 4,5 watt/m2 untuk perangkat yang menggunakan frekuensi 900 MHz dan 9 watt/m2 untuk 1.800 MHz. Sementara itu, standar yang dikeluarkan IEEE C95.1-1991 malah lebih tinggi lagi, yakni 6 watt/m2 untuk frekuensi 900 MHz dan 12 watt/m2 untuk perangkat berfrekuensi 1.800 MHz.“Umumnya, radiasi yang dihasilkan perangkat-perangkat yang digunakan operator seluler tidak saja di Indonesia, tapi juga seluruh dunia, masih jauh di bawah ambang batas standar sehingga relatif aman..Sejauh ini protes dan kekhawatir masyarakat terhadap dampak radiasi gelombang elektromagnetik yang dihasilkan perangkat telekomunikasi seluler lebih banyak datang dari mereka yang tinggal di sekitar tower BTS (base transceiver station).

Sejauh ini belum ada satu pun keluhan atau kekhawatiran akan dampak radiasi itu yang datang dari para pengguna telefon seluler. Padahal, jika dihitung-hitung, besarnya daya radiasi yang dihasilkan pesawat telepon seluler jauh lebih besar daripada radiasi tower BTS. Memang betul, daya dari frekuensi pesawat handphone sangat kecil, tapi karena jaraknya demikian dekat dengan tubuh kita, dampaknya juga lebih besar..Pernyataan tersebut didasarkan atas hasil perhitungan menggunakan rumus yang berlaku dalam menghitung besaran radiasi.

Misalnya saja, pada tower BTS dengan frekuensi 1800 MHz daya yang digunakan rata-rata 20 watt dan pada frekuensi 900 MHz 40 watt, sedangkan pesawat handphone dengan frekuensi 1.800 MHz menggunakan daya sebesar 1 watt dan yang 900 MHz dayanya 2 watt.

Berdasarkan hasil perhitungan, pada jarak 1 meter (jalur pita pancar utama), tower BTS dengan frekuensi 1.800 MHz mengasilkan total daya radiasi sebesar 9,5 w/m2 dan pada jarak 12 meter akan menghasilkan total radiasi sebesar 0,55 w/m2. Untuk kasus tower yang memiliki tinggi 52 meter, berdasarkan hasil perhitungan, akan menghasilkan total radiasi sebesar 0,029 w/m2. “Jadi, kalau melihat hasil perhitungan demikian, sebenarnya angkanya sangat kecil sehingga orang yang tinggal di sekitar tower BTS cukup aman. Lagipula kalau tidak aman, bisnis sektor telekomunikasi pasti akan ditinggalkan konsumen.

Pada Tower juga dilengkapi dengan grounding atau system pentanahan, yang gunanya adalah penangkap petir, dimana kalau terjadi petir maka yang duluan disambar adalah kutub negative yang terdekat dengan awan atau ion positive , dimana pada puncak tower dipasang finial dari tembaga dan dialirkan ketanah dengan kabel BCC, sehingga aliran petir cepat mencapai tanah dan mengamankan daerah sekitarnya dari sambaran petir, karena sifat dari arus listrik adalah mencari jalan tependek mencapai tanah, dan hilang di netralisir oleh bumi.

Sehingga anggapan orang selama ini yang berpikir bahwa BTS atau Tower itu bermasalah bagi Kesehatan dan tubuh manusia sebenarnya perlu di luruskan, sehingga dengan adanya pembangunan BTS ini, komunikasi semakin lancar, dan tentunya masyarakat untung, Operator pun untung. ”

 

Semoga apa yang dijelaskan pak Bambang Purnomo ini bisa membantu pemahaman masyarakat umum terkait dengan Pengaruh radiasi Antenna di BTS terhadap Lingkungan.

Yogyakarta, 19-03-2014

 

 

 

Share on Facebook

Posted in Berita.

Tagged with , .



Improve the web with Nofollow Reciprocity.

Switch to our mobile site