Skip to content


PIMNAS 27

Tahun 2014 ini, Undip memberangkatkan 13 tim PKM ke ajang PIMNAS 27. Mereka terdiri dari 7 PKMKC, 2 PKMM, 2 PKMK, 1 PKMP dan 1 PKMT.

 

Share on Facebook

Posted in Berita, Kemahasiswaan.


Paket Wisata Geotermal

Artikel ini telah diterbitkan di Kolom Wacana Lokal, SUARA MERDEKA, 11 Juni 2014.

Untuk memenuhi kebutuhan energi listrik yang tiap tahun terus meningkat, pemerintah mencanangkan program pembangunan 10.000 MW, dengan membangun pusat-pusat pembangkit energi listrik, seperti PLTU Tanjung Jati, PLTU Cilacap dan PLTU Batang. Namun pembangkit tersebut masih menggunakan bahan bakar yang tidak dapat diperbarui ( Suara Merdeka, 11 Juni 2014).

Guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar yang tidak dapat diperbarui, kebijakan umum ketenagalistrikan di Jawa Tengah, mendorong pencarian potensi dan cadangan energi baru dan terbarukan (EBT). Selain itu, penganekaragaman pemanfaatan EBT untuk sumber energi. Sumber energi terbarukan yang bisa dimanfaatkan, yaitu panas bumi (geotermal), panas matahari (solar cell), tenaga angin, dan aliran air sungai.

Salah satu sumber energi baru dan terbarukan yang jadi primadona Jateng adalah geotermal. Terdapat 14 lokasi panas bumi di 5 kawasan gunung, yaitu Gunung Slamet (Guci, Baturraden), Gunung Ungaran (Diwak, Kaliulo, Nglimut, Gedongsongo), Gunung Lawu (Bayanan, Pablengan, Cumpleng), Gunung Dieng (Wanayasa, Kawah Candradimuka, Sikidang), dan Gunung Telomoyo (Candi Umbul, Candi Dukuh).
Saat ini lokasi geotermal yang telah dimanfaatkanyaitu pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di kawasan Dieng. Adapun lokasi geotermal lain, yang akan segera dieksplorasi berada di kawasan objek wisata Guci Bumijawa Kabupaten Tegal.

Membaca berita berjudul ”Eksplorasi Panas Bumi di Guci Segera Dilakukan” (SM, 28/4/14), menggugah rasa bangga penulis sekaligus rasa khawatir. Bangga karena Jateng  ternyata memiliki potensi energi baru dan terbarukan yang melimpah. Berdasarkan hasil survei lanjutan, diperoleh informasi bahwa kapasitas pembangkit geotermal Guci, 1 unit mencapai 200 MW, padahal semula diperkirakan hanya 55 MW. Suntikan daya 200 MW terhadap sistem kelistrikan Jawa Bali ini tentu akan memperbaiki profil tegangan dan daya di Jawa Tengah khususnya.
Investor PT Spring Energy Sentosa akan melakukan eksplorasi untuk mencari titik panas bumi  sekitar Juli 2014. Di tengah rencana eksplorasi, muncul kerisauan penulis terhadap lingkungan konservasi sebagai penyangga sumber air di kawasan Gunung Slamet. Termasuk kekhawatiran menurunnya ketersediaan air panas bagi objek wisata Guci. Selama ini, kawasan hutan konservasi di Gunung Slamet menjadi penyangga utama sumber air yang mengalir melalui sungai Gung (Kali Gung) dan digunakan mengairi sawah dari wilayah selatan hingga utara.

Paket Wisata

Objek wisata air panas Guci saat ini memberikan PAD Rp 2 miliar lebih per tahun (SM, 22/10/13). Dengan perbaikan manajemen wisata, salah satunya menggunakan alat hitung otomatis pengunjung (automatic visitor counter-AutoVisCo), perolehan PAD sektor wisata ini bisa Rp 3 miliar lebih per tahun.

wisata-guci1Sumber : http://hendraxsap.files.wordpress.com/2012/12/wisata-guci.jpg

Potensi wisata ini sepenuhnya bertumpu pada sumber air panas yang mengandung sulfur, di samping panorama alam pegunungan yang indah. Penulis khawatir, pada saat eksplorasi ini dilaksanakan, akan merusak lingkungan yang berakibat menurunnya kemampuan hutan untuk menyerap air.

Kerusakan lingkungan alam bisa saja terjadi karena proses pencarian titik panas bumi kurang akurat, sehingga harus berpindah-pindah dari satu titik ke titik lainnya, yang mengakibatkan kerusakan hutan konservasi sebagai penyangga sumber air. Jangan sampai kehadiran PLTP geotermal itu menurunkan debit air panas Guci, objek wisatayang selama ini telah menjadi primadona Kabupaten Tegal.

Alam LestariSumber : http://infotegal.com/wp-content/uploads/2013/01/1.jpg

Harapannya, justru dengan adanya pembangkit listrik panas bumi di Guci, kawasan hutan konservasi dapat lebih terjaga, bahkan menambah daya tarik wisata sehingga pengelolaannya menjadi satu paket dengan wisata air panas Guci. Jika demikian, tentu keberadaan pembangkit listrik geotermal sangat bermanfaat dan perlu segera direalisasikan karena bisa melengkapi paket wisata Guci: air panas dan panorama alam pegunungan yang indah. (10)

— Abdul Syakur ST MT, warga Kabupaten Tegal, dosen Jurusan Elektro Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Share on Facebook

Posted in Berita, Opini.


Seleksi Mawapres Undip 2014

Mawapres Undip 2014

Selamat kepada saudara Arliandi Pratama Arbad, Mawapres UNDIP tahun 2014 yang telah dinyatakan lolos 15 besar Finalis Mawapres tingkat Nasional tahun 2014.
Saya, Abdul Syakur, ST. MT.  sebagai juru bidang Pencapaian Prestasi dan Penghargaan, memberikan dukungan dan doa, semoga langkah selanjutnya diberikan kelancaran dan berkah dari Alloh SWT untuk menjadi contoh teladan bagi Mahasiswa Undip khususnya dan Mahasiswa Indonesia pada umumnya. Selamat berkarya lebih baik lagi untuk bangsa dan negara Indonesia.

Share on Facebook

Posted in Berita, Kemahasiswaan.


Pohon Kandri Pelenyap Petir

Pohon Kandri dengan nama latin   Bridelia Monoica banyak dijumpai di sekitar kilang minyak Pertamina Cilacap. Mengapa pohon Kandri ini banyak ditanam di sana ? Karena suatu alasan yang sangat penting bagi keselamatan kilang-kilang minyak di pertamina Cilacap, agar tidak terkena sambaran petir.

Kandri 2Informasi ini sudah ada cukup lama, melalui berita di harian Suara Merdeka. Selain menggunakan sistem proteksi eksternal sangkar Faraday, di sekitar kilang minyak di Pertamina Cilacap, juga ditanami pohon Kandri, dan hingga sampai sekarang, pohon Kandri masih dijumpai di sana.

Abdul Syakur, ST. MT. dosen teknik elektro Universitas Diponegoro sangat tertarik dengan adanya fenomena ini, dan ingin melihat secara langsung seperti apakah pohon Kandri ini. Seorang alumnus teknik elektro Undip bapak Sardjana yang bekerja di PT. Phapros Semarang, memberitahukan kalau pohon Kandri ini juga ditanam di komplek PT Phapros dengan harapan dan tujuan yang sama, yaitu untuk menghilangkan efek sambaran petir di sekitar wilayah itu. (Foto 1. Batang Pohon Kandri dan nama latinnya). Diketahui, sampai dengan tahun terakhir ini, lokasi-lokasi di sekitar Simongan ini intensitas petir cukup tinggi dan mengganggu peralatan yang ada di perusahaan. Padahal pihak perusahaan juga sudah memasang proteksi petir ekstenal jenis proteksi aktif, namun masih terjadi gangguan yang disebabkan oleh karena adanya sambaran petir. Lalu ada seorang kawan, menyarankan agar ditanami pohon Kandri di sekitar lokasi yang sering terkena sambaran petir. Ada beberapa pohon Kandri ditanam di lokasi yang cukup rawan terhadap bahaya sambaran petir.Kandri 3

(Foto 2. Abdul Syakur bersama mahasiswa di depan pohon Kandri).

Hal yang menarik dan selalu menimbulkan pertanyaan bagi Abdul Syakur adalah mengapa pohon kandri ini bisa menghilangkan / melenyapkan sambaran petir ? Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab antara lain :

1. Sebelum ditanami pohon Kandri banyak sambaran petir, setelah ditanami pohon Kandri, tidak ada lagi sambaran petir. Benarkah demikian ?

2. Sebelum ditanai pohon Kandri banyak sambaran petir dan merusak peralatan listrik dan elektronik, setelah ditanami pohon Kandri masih banyak sambaran petir, tapi tidak ada peralatan listrik dan elektronik yang rusak. Benarkah demikian ?

Kalau pertanyaan no 1 dijawab benar, berarti pohon Kandri memiliki kemampuan untuk melenyapkan/meniadakan sambaran petir di lokasi tersebut. Lalu sifat-sifat apakah yang dimiliki oleh pohon Kandri ini, sehingga bisa menghilangkan sambaran petir ?

Kalau pertanyaan no 2 dijawab benar, berati pohon Kandri tidak melenyapkan petir, karena petir masih sering terjadi petir, namun pohon Kandri dapat melindungi peralatan listrik dan elektronik yang berada di sekitar pohon Kandri.

Untuk hal-hal inilah, Abdul Syakur beserta mahasiswa peserta kuliah Sistem Proteksi Petir, tertarik untuk meneliti sifat-sifat yang dimiliki oleh pohon Kandri, jika benar dapat melenyapkan sambaran petir. Diharapkan melalui penelitian ini, dapat menjawab fenomena lenyapnya sambaran petir di sekitar pohon Kandri secara ilmiah, bukKandri 1an lagi Konon Katanya. (Foto 3. Abdul Syakur, Sardjana, dan Mahasiswa berfose membelakangi pohon Kandri di komplek PT. Phapros Simongan Semarang)

 

 

Share on Facebook

Posted in Berita, Opini.

Tagged with , , .


Mempertanyakan Kembali Pengaruh BTS terhadap Lingkungan

Menara BTS saat ini sudah banyak berdiri di mana-mana untuk memberikan kemudahan, kelancaran dalam komunikasi. Sampai saat ini masih terdapat silang pendapat mengenai pengaruh BTS terhadap lingkungan sekitar, apakah ada pengaruh negatifnya ?

Ditinjau dari sisi positif bagi masyarakat pada umumnya, dengan adanya menara BTS maka akan memperlancar komunikasi, baik itu komunikasi lisan (menggunakan HP) maupun komunikasi melalui intrenet. Selain manfaat tersebut, masyarakat pada umumnya tidak mendapatkan keuntungan apa-apa. Keuntungan hanya diperoleh oleh perseorangan atau kelompok yang tanahnya atau lokasinya digunakan untuk mendirikan menara BTS tersebut.

Lalu apa sisi negatifnya ? Ini yang masih menjadi silang pendapat, sebenarnya BTS itu menimbulkan efek negatif terhadap lingkungannya ? Apakah ada pengaruh dari radiasi yang dipancarkan oleh antena yang ada di menara BTS, terhadap kesehatan manusia di sekitarnya ? terhadap peralatan elektronik yang ada dilingkungan sekitarnya ? Bagaimana jika menara BTS terkena angin kencang hingga roboh ? Ini adalah sebagian dari pertanyaan warga masyarakat ketika lokasi mereka akan dibangun menara BTS.

Saya coba uraikan di sini berdasarkan sumber dari : http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20130510084847AAKEgOA yang masih perlu diklarifikasi kebenarannya.

Berikut ini sejumlah dampak negatif yang bisa ditimbulkan akibat radiasi yang
berlebihan dari ponsel dan menara BTS:

1. Risiko kanker otak pada anak-anak dan remaja meningkat 400 persen akibat
penggunaan ponsel. Makin muda usia pengguna, makin besar dampak yang
ditimbulkan oleh radiasi ponsel.

2. Bukan hanya pada anak dan remaja, pada orang dewasa radiasi ponsel juga
berbahaya. Penggunaan ponsel 30 menit/hari selama 10 tahun dapat meningkatkan
risiko kanker otak dan acoustic neuroma (sejenis tumor otak yang bisa menyebabkan tuli).

3. Radiasi ponsel juga berbahaya bagi kesuburan pria. Menurut penelitian,
penggunaan ponsel yang berlebihan bisa menurunkan jumlah sperma hingga 30 persen.

4. Frekuensi radio pada ponsel bisa menyebabkan perubahan pada DNA manusia
dan membentuk radikal bebas di dalam tubuh. Radikal bebas merupakan karsinogen
atau senyawa yang dapat memicu kanker.

5. Frekuensi radio pada ponsel juga mempengaruhi kinerja alat-alat penunjang
kehidupan (live saving gadget) seperti alat pacu jantung. Akibatnya bisa
meningkatkan risiko kematian mendadak.

6. Sebuah penelitian membuktikan produksi homon stres kortisol meningkat pada
penggunaan ponsel dalam durasi yang panjang. Peningkatan kadar stres merupakan
salah satu bentuk respons penolakan tubuh terhadap hal-hal yang membahayakan
kesehatan.

7. Medan elektromagnet di sekitar menara BTS dapat menurunkan sistem kekebalan
tubuh. Akibatnya tubuh lebih sering mengalami reaksi alergi seperti ruam dan gatal-gatal.

8. Penggunaan ponsel lebih dari 30 menit/hari selama 4 tahun bisa memicu hilang
pendengaran (tuli). Radiasi ponsel yang terus menerus bisa memicu tinnitus (telinga
berdenging) dan kerusakan sel rambut.

Berdasarkan paparan yang disampaikan Bapak Bambang Purnomo dalam blognya dengan judul Pengaruh BTS terhadap Kesehatan Manusia ditulis tanggal 8 Januari 2009 menuliskan sebagai berikut :

Beberapa waktu yang lalu Temen saya bertanya kepada saya, apakah ada pengaruh Tower telekomunikasi (BTS) terhadap kesehatan masyarakat yang ada di bawah atau di sekitar BTS itu berada?, hal ini di karenakan tetangga beliau, atap rukonya akan di bangun BTS, namun warga disana menolak karena mereka berpikiran bahwa BTS itu berdampak buruk ke kesehatan manusia seperti halnya SUTET tegangan tinggi.

Dari literature yang saya baca, dan sering kali discuss dengan teman-teman yang touch kerjaanya dengan BTS ini seperti devisi NO dan orang-orang SITAC (Site Acquisition) kalau BTS itu radiasinya sangat kecil sekali mempengaruhi kesehatan tubuh manusia, dan radiasi yang ada masih jauh di bawah ambang normal, jadi sebenarnya ketika dari pihak SITAC dan vendor bisa menjelaskan ke Penduduk dimana BTS itu akan di bangun bahwa pengaruhnya tidak ada ke tubuh manusia dan kesehatan.

Kita tidak dapat menyalahkan masyarakat yang salah kaprah dalam menyikapi tower telekomunikasi, karena memang mereka tidak mengetahui dan tidak mendapatkan informasi yang benar tentang apa dan bagaimana tower serta akibat yang dapat ditimbulkan oleh tower tersebut.

Tower telekomunikasi baik untuk pemancar Gelombang Micro Digital ( GMD ) maupun untuk BTS ( Base Transceiver System) pemancar HP, Untuk GMD biasanya memancarkan gelombang elektromagnetik dengan frekuensi 4 sampai 7 Ghz , dimana antara antenna pemancar dengan antenna penerima berjarak sekitar maksimum 60 Km dan harus LOS ( Line Of Side ) tidak ada obstackle ( penghalang ) yang menghalangi antara keduanya., biasanya dengan ketinggian diatas 40 meter dari permukaan tanah.

Gelombang yang dipancarkan adalah gelombang ruang, merambat lurus diudara.
Sementara untuk BTS adalah memancarkan gelombang elektromagnetik dengan frekuensi rendah berkisar antara 900 s/d 1800 Mhz., yang dipancarkan oleh antenna sektoral yang nantinya akan ditangkap oleh antenna HP pada masing-masing pelanggan HP.Secara teknologi gelombang radio dapat dinyatakan aman untuk kesehatan manusia dan peralatan listrik di rumah tangga. Sudah lama sekali gelombang radio dipergunakan manusia untuk komunikasi mulai dari Abraham Bell menemukan Telegraph, sampai kepada teknologi cellular saat ini, yang dapat memudahkan manusia untuk berkomunikasi satu dengan lainnya.

Tower Telekomunikasi dapat dibedakan dari bentuk dan konstruksinya, mulai dari yang sederhana berbentuk segi tiga, yang ditopang dengan tali agar tidak meliuk-liuk terkena hembusan angin, ini jenisnya adalah Tower Gaymas, yang mempunyai temberang sebagai suportingnya, keamanan dari tower ini paling bawah secara konstruksi, kalau bebannya berat maka dikhawatirkan patah dan menimpa sekitarnya.Jenis yang kedua adalah SST ( Self Suporting Tower ), dimana tower ini mempunyai konstruksi baja mempunyai kaki empat buah dengan fondasi tertanam kebawah tanah dengan kedalaman tertentu, besi rangka tower ini dilapisi dengan galvanis yang tahan samapai puluhan tahun tidak berkarat, lagi pula tower ini pemeliharaannya dengan mencat dengan cat khusus, anti karat, sehingga kemungkinan tower ini roboh sangat kecil, tinggi tower berfariasi tergantung kontur bumi, kalau kontur bumi datar maka diperlukan tower yang lebih tinggi, sementara kalau didaerah perbukitan, tower dibangun diatas puncak bukit dengan ketinggian yang relative rendah.
Tower Telekomunikasi berbeda dengan tower Listrik , yang ditopangnya adalah kabel yang dialiri oleh Saluran Umum Tegangan Extra Tinggi ( SUTET ), dimana arus listrik yang dilewatkannya adalah diatas 20.000 KV, sehingga menimbulkan radiasi listrik yang cukup besar.

Sementara tower Telekomunikasi yang ditopangnya adalah antenna yang memancarkan gelombang elektromagnetik atau kita sebut dengan gelombang radio, yang radiasinya berkisar berordo watt, sehingga belum sampai ketanah sudah hilang radiasinya itu.jadi boleh dikatakan aman untuk kesehatan manusia dan peralatan elektrik umah tangga.Sinyal BTS, tidak akan mengganggu frekuensi radio dan TV karena peralatan BTS bekerja pada gelombang 900 mhz dan 1.800 mhz.
Sementara radio dan TV bekerja pada 100-600 mhz. Kekuatan tower pun tidak perlu diragukan, karena telah dirancang mampu menahan angin berkecepatan hingga 120 km/jam dan pondasi yang sangat kokoh di mana setiap cm2 mampu menahan beban hingga 225 kg.

“Berdasar penelitian WHO dan Fakultas Teknik UGM, BTS tidak terdapat radiasi yang membahayakan kesehatan manusia.level batas radiasi yang diperbolehkan menurut standar yang dikeluarkan WHO masing-masing 4,5 watt/m2 untuk perangkat yang menggunakan frekuensi 900 MHz dan 9 watt/m2 untuk 1.800 MHz. Sementara itu, standar yang dikeluarkan IEEE C95.1-1991 malah lebih tinggi lagi, yakni 6 watt/m2 untuk frekuensi 900 MHz dan 12 watt/m2 untuk perangkat berfrekuensi 1.800 MHz.“Umumnya, radiasi yang dihasilkan perangkat-perangkat yang digunakan operator seluler tidak saja di Indonesia, tapi juga seluruh dunia, masih jauh di bawah ambang batas standar sehingga relatif aman..Sejauh ini protes dan kekhawatir masyarakat terhadap dampak radiasi gelombang elektromagnetik yang dihasilkan perangkat telekomunikasi seluler lebih banyak datang dari mereka yang tinggal di sekitar tower BTS (base transceiver station).

Sejauh ini belum ada satu pun keluhan atau kekhawatiran akan dampak radiasi itu yang datang dari para pengguna telefon seluler. Padahal, jika dihitung-hitung, besarnya daya radiasi yang dihasilkan pesawat telepon seluler jauh lebih besar daripada radiasi tower BTS. Memang betul, daya dari frekuensi pesawat handphone sangat kecil, tapi karena jaraknya demikian dekat dengan tubuh kita, dampaknya juga lebih besar..Pernyataan tersebut didasarkan atas hasil perhitungan menggunakan rumus yang berlaku dalam menghitung besaran radiasi.

Misalnya saja, pada tower BTS dengan frekuensi 1800 MHz daya yang digunakan rata-rata 20 watt dan pada frekuensi 900 MHz 40 watt, sedangkan pesawat handphone dengan frekuensi 1.800 MHz menggunakan daya sebesar 1 watt dan yang 900 MHz dayanya 2 watt.

Berdasarkan hasil perhitungan, pada jarak 1 meter (jalur pita pancar utama), tower BTS dengan frekuensi 1.800 MHz mengasilkan total daya radiasi sebesar 9,5 w/m2 dan pada jarak 12 meter akan menghasilkan total radiasi sebesar 0,55 w/m2. Untuk kasus tower yang memiliki tinggi 52 meter, berdasarkan hasil perhitungan, akan menghasilkan total radiasi sebesar 0,029 w/m2. “Jadi, kalau melihat hasil perhitungan demikian, sebenarnya angkanya sangat kecil sehingga orang yang tinggal di sekitar tower BTS cukup aman. Lagipula kalau tidak aman, bisnis sektor telekomunikasi pasti akan ditinggalkan konsumen.

Pada Tower juga dilengkapi dengan grounding atau system pentanahan, yang gunanya adalah penangkap petir, dimana kalau terjadi petir maka yang duluan disambar adalah kutub negative yang terdekat dengan awan atau ion positive , dimana pada puncak tower dipasang finial dari tembaga dan dialirkan ketanah dengan kabel BCC, sehingga aliran petir cepat mencapai tanah dan mengamankan daerah sekitarnya dari sambaran petir, karena sifat dari arus listrik adalah mencari jalan tependek mencapai tanah, dan hilang di netralisir oleh bumi.

Sehingga anggapan orang selama ini yang berpikir bahwa BTS atau Tower itu bermasalah bagi Kesehatan dan tubuh manusia sebenarnya perlu di luruskan, sehingga dengan adanya pembangunan BTS ini, komunikasi semakin lancar, dan tentunya masyarakat untung, Operator pun untung. ”

 

Semoga apa yang dijelaskan pak Bambang Purnomo ini bisa membantu pemahaman masyarakat umum terkait dengan Pengaruh radiasi Antenna di BTS terhadap Lingkungan.

Yogyakarta, 19-03-2014

 

 

 

Share on Facebook

Posted in Berita.

Tagged with , .


Petir saat gunung Kelud meletus

Beberapa hari yang lalu, tepatnya 14 Pebruari 2014 dini hari, gunung Kelud meletus dahsyat, tampak disertai dengan adanya kilat dan petir berkelebatan ke udara, membumbung tinggi bersama material yang dimuntahkannya, hingga ketinggian 17 km. Peristiwa alam meletusnya gunung berapi disertai petir merupakan hal yang biasa. Foto berikut ini menunjukkan dahsyatnya petir dan letusan gunung Kelud. Mengapa terjadi demikian ? Inilah penjelasannya . . .

images

Share on Facebook

Posted in Berita.


Dikti danai 232 PKM UNDIP

Tahun 2014 ini, Dikti mendanai 232 Program Kreativitas Mahasiswa Undip. Jumlah ini lebih banyak jika dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 150 PKM.

Share on Facebook

Posted in Berita, Kemahasiswaan.

Tagged with .


SIPKD, PNSmail dan SKP

Akhir tahun 2013 dan awal tahun 2014, adalah masa gaduh bagi PNS dengan predikat dosen ini. Bermula dari adanya surat edaran dari Dikti agar para PNS dosen mengisi data dirinya melalui Sistem Informasi Penilaian Kinerja Dosen. Tidak tanggung-tanggung, yang harus mengisi adalah dosen seluruh nusantara, sehingga diperlukan suatu server yang ‘mahabesar’ agar bisa diakses dari seluruh penjuru nusantara dengan data-data yang disertai dengan berkas yang harus diunggah. Bersamaan dengan ‘keharusan’ mengisi SIPKD, saya tulis keharusan karena ada ancaman bagi dosen yang tidak mengisi SIPKD, diumumkan PNS kemendikbud memperoleh remunerasi, kecuali dosen. Inilah yang kemudian memicu kebersamaan dosen seluruh nusantara untuk membuat petisi kepada presiden. Gaduh SIPKD dan remunerasi ini berlangsung hingga mendekati akhir tahun 2013. Sempat redam karena pengunggahan data diundur hingga Februari 2014.

Lalu, awal tahun 2014 ini kembali para dosen dibuat ternganga, dengan adanya edaran Dikti agar para dosen menggunakan mail resmi yang diterbitkan oleh pemerintah dengan menggunakan @pnsmail.go.id. Namun tidak begitu kaget, karena realisasinya masih menunggu juklak yang masih disiapkan, artinya pada saat ini belum siap untuk diimplementasikan.

Dan ini yang terbaru, agar para dosen membuat rencana Sasaran Kerja Pegawai (SKP) selama satu tahun. Apa saja yang akan dilakukan selama 1 tahun dalam kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan Pendidikan dan Pengajaran, Kegiatan Penelitian dan Publikasi, Kegiatan Pengabdian dalam Masyarakat serta Kegiatan Penunjang. Dibuat rencana kerjanya pada awal tahun dan dievaluasi diakhir tahun dengan penilaian mirip atau bisa disebut sebagai penggantinya DP3.

Selamat mengisi SKP, rencana kegiatan satu tahun ke depan.

Share on Facebook

Posted in Berita.

Tagged with , , .


Menuju Indonesia Mandiri Listrik

Minggu, 22 Desember 2013, Himpunan Mahasiswa Elektro menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema Menuju Indonesia Mandiri Listrik. Mengundang para pembicara dari DEN (Dewan Energi Nasional), PT. PLN (Persero) dan dari BATAN. Bertindak sebagai Keynote speaker Gubernur Jateng, bapak Ganjar Pranowo, SH yang diwakili oleh Kepala ESDM Propinsi Jateng bapak Ir. Teguh Dwi P, MT.

Pembicara pertama Dr. Ir. Tumiran, M.Eng. dari Dewan Energi Nasional dengan moderator Dr. Ir. Hermawan, DEA menyampaikan materi Kondisi Kekinian Energi Nasional.

SemNas HME

Pembicara pada sesi II yaitu Ir. Djoko R. Abumanan, M.B.A, General Manager PT. PLN (Persero) JATENG DIY dipanel bersama dengan Dr. Mohammad Dhandhang Purwadi, M.Eng, Kepala Bidang Pengembangan Reaktor, BATAN, dengan moderator Abdul Syakur, ST. MT.

Ir. Djoko Abumanan menyampaikan kondisi kelistrikan nasional dan Jawa Tengah serta tantangannya di masa yang akan datang. Dr. Dhandhang menyampaikan prospek energi nuklir untuk kemandirian energi di masa yang akan datang. Kedua pembicara sepakat bahwa generasi muda harus optimis bahwa kemandirian energi listrik bisa dicapai dengan kemampuan SDM anak bangsa.

Usai jeda istirahat dan makan siang acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Kepala Divisi Perencanaan Sistem PLN Pusat, Ir. I Made Ro Sakya, M.Sc. dengan moderator Dr. Mochammad Facta, ST.MT. Hingga selesainya acara, para peserta baru beranjak meninggalkan kursi mereka, karena materi yang disampaikan sangat menarik dari para pakar di bidangnya masing-masing.

 

 

 

Share on Facebook

Posted in Berita.

Tagged with , , .


Awan Berpotensi Terbentuknya Petir

Bulan Nopember hingga Januari memiliki intensitas hujan yang cukup tinggi. Musim hujan seperti saat ini, seringkali disertai dengan adanya petir. Jumlah sambaran petir atau guruh yang terjadi di awan lebih banyak (80%) dibandingkan dengan sambaran petir yang mencapai bumi. Meskipun probabilitas sambaran petir ke bumi ini sedikit, namun dampak yang diakibatkan sangat fatal, karena dapat merusak peralatan bahkan menimbulkan ancaman kematian bagi yang terkena sambaran petir ini. Sambaran petir ini merupakan bentuk pelepasan muatan listrik statis di awan menuju bagian-bagian yang memiliki potensial lebih rendah. Muatan listrik ini mengalir dengan kecepatan yang sangat tinggi, hingga 1/3 kecepatan cahaya.

Lalu bagaimana mekanisme terbentuknya muatan listrik di awan ini berlangsung ?

Awan dan SUTTAwan dihasilkan dari proses penguapan air yang ada di daratan, sungai, danau, laut dan lain-lain dengan membawa partikel-partikel padat bermuatan berukuran mikro.. Pada ketinggian tertentu, uap air tersebut akan terkondensasi karena suhu udara yang rendah. Kumpulan awan-awan tersebut kemudian bergesekan dengan udara panas yang bergerak menerobos bagian-bagian awan tersebut. Gesekan antara udara panas dengan awan yang membawa partikel-partikel bermuatan tadi, menghasilkan muatan listrik statis. Proses produksi muatan-muatan listrik statis dari gesekan udara panas dengan awan ini disebut dengan elektrifikasi.

Semakin lama berlangsungnya elektrfikasi, maka muatan listrik yang dihasilkan akan semakin banyak, dalam satuan Mega Coloumb. Jika muatan listrik awan semakin meningkat, maka beda potensial antara satu awan dengan awan yang lain atau awan dengan bumi akan semakin besar. Beda potensial ini yang akan mengawali proses terjadinya pelepasan muatan listrik. Pada saat beda potensial antara awan dengan bumi semakin meningkat, maka kuat medan listrik E yang terbentuk juga semakin besar. Jika kekuatan dielektrik udara yang berada di antara awan atau awan dengan bumi sudah terlampaui, maka pelepasan muatan listrik ini tidak dapat dihindari, terbentuklah petir.

===> to be continued ……

 

Share on Facebook

Posted in Berita.

Tagged with , , .



Improve the web with Nofollow Reciprocity.

Switch to our mobile site