Skip to content

Categories:

Tower Widya Puraya

Tulisan ini telah dimulai ditulis, saat tower di belakang gedung Widya Puraya masih dalam proses dibangun.

Sebentar lagi akan berdiri menara ( saya belum tahu persis, ini BTS atau menara apa nantinya ) tepat di belakang gedung Widya Puraya.

IKON UNDIP

Selama ini Gedung Widya Puraya cukup mewakili sebagai ikon UNDIP. Gedung Widya Puraya merupakan gedung paling tinggi dan paling besar, digunakan sebagai Perpustakaan. Memiliki filosofi, UNDIP sebagai universitas riset yang menempatkan perpustakaan ( sumber ilmu ) sebagai tempat yang megah dan paling tinggi, sehingga gedung rektorat pun (mengalah) lebih rendah dari gedung Widya Puraya. Ilmu harus lah lebih dikedepankan, lebih diutamakan dan lebih menjadi prioritas utama daripada jabatan dan para penguasa.

Namun, dengan berdirinya tower di belakang gedung Widya Puraya ini, ( yang kemudian saat ini, tampak sebagai sebuah BTS ), tentu akan mengurangi keindahan dan kemegahan gedung Widya Puraya ini. Secara estetika, menjadi tidak seimbang, menjadi timpang, karena ada struktur tinggi di satu sisi saja.

Tulisan ini bukan untuk membahas sisi estetika dan ikon UNDIP yang baru ini. Tapi lebih pada resiko yang mungkin muncul, dengan adanya tower BTS di belakang gedung WP ( singkatan untuk Widya Puraya ).

Resiko Sambaran Petir

Pada tahun 2005, telah dilakukan penelitian bahwa gedung WP ini merupakan gedung tertinggi di kawasan bukit dimana kampus UNDIP dibangun, memiliki resiko tinggi terhadap sambaran petir secara langsung. Dengan berdirinya tower BTS di belakang gedung WP, ini resiko terkena sambaran petir secara langsung berkurang. Namun, perlu diketahui pula, dengan adanya struktur yang menjulang tinggi, akan meningkatkan angka sambaran petir ke bumi. Frekuensi sambaran petir ke daerah sekitar gedung WP akan meningkat. Bahaya sambaran petir langsung pada gedung WP berkurang, namun sambaran induksi petir akan meningkat.

Maka diperlukan proteksi yang menyeluruh, baik proteksi eksternal maupun internal, agar BTS, gedung Widaya Puraya dan peralatan-peralatan listrik serta piranti-piranti elektronik yang beroperasi di sekitar BTS, aman terhadap bahaya sambaran langsung dan sambaran tidak langsung.

Share on Facebook

Posted in News.

Tagged with , , , .


Kepada Guru dan Dosen : Jadilah Pendidik

[kolom edukasi] : Sebuah tulisan yang menegaskan (sekali lagi tentang guru juga dosen mestinya), agar ingat tugasnya sebagai pendidik yang membangun bukan merusak, amanah yang dititipkannya, yaitu murid, siswa, mahasiswa. Saya copy paste kan di sini, untuk menjadi inspirasi bagi para guru dan juga para dosen. ( abdul SYAKUR )

Encouragement
by Rhenald kasali

Thursday, 15 July 2010

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.
Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali.
Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.
Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.
Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah. Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu
guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”"Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum.

Budaya Menghukum

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak-anaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun
melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam.

Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah. Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.
Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel.

Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarahtelah menunjukkan kemajuan yang berarti.” Malam itu saya mendatangi anak

saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

Melahirkan Kehebatan

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti. (*)

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

Share on Facebook

Posted in News.

Tagged with , , .



Improve the web with Nofollow Reciprocity.

Switch to our mobile site